Nurul Husma Hikmawati
Kontributor
Bantul, (12 September 2026) Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) mengajak siswa Kelas XI MAN 3 Bantul berlatih menyusun teks argumentasi dengan tema pangan lokal. Kegiatan ini memicu diskusi kritis seputar singkong, sorgum, dan pisang sebagai alternatif pangan berkelanjutan, sekaligus menyentuh capaian SDG 2, SDG 4, SDG 12, dan SDG 17 dalam satu rangkaian pembelajaran. Ruang kelas yang biasanya hening saat penjelasan tata bahasa pun berubah ramai oleh perdebatan kecil yang sehat, ketika siswa saling beradu argumen tentang mengapa pangan lokal perlu mendapat tempat lebih besar di meja makan masyarakat.
Sebelum sampai pada tahap praktik, siswa terlebih dahulu dibekali pemahaman mendalam mengenai anatomi teks argumentasi: bagaimana sebuah tesis dibangun, bagaimana argumen disusun agar logis dan berlapis, serta bagaimana penegasan ulang menutup tulisan dengan meyakinkan. Materi ini disampaikan secara bertahap melalui pemaparan, contoh, dan diskusi interaktif, sehingga siswa tidak sekadar menghafal struktur, tetapi memahami logika di baliknya.
Barulah setelah pemahaman itu terbentuk, siswa diajak masuk ke tahap yang paling dinantikan: menyusun argumen mereka sendiri dengan tema pangan lokal sebagai pijakan. Antusiasme kelas terlihat jelas. Banyak siswa mengangkat tangan untuk bertanya secara serius, mulai dari cara memperkuat argumen dengan data, hingga cara menyanggah pendapat yang berlawanan tanpa terjebak emosi. Kemampuan mereka menghubungkan materi dengan realitas di sekitar rumah dan lingkungan mereka pun tampak menonjol.
Pemilihan tema pangan lokal bukan tanpa pertimbangan. Isu ini dekat dengan keseharian siswa, namun jarang menjadi bahan diskusi serius di ruang kelas. Melalui teks argumentasi, siswa didorong menyuarakan pandangan mereka: ada yang menyoroti ketergantungan masyarakat pada beras dan gandum impor, ada pula yang mengangkat potensi umbi-umbian lokal sebagai alternatif pangan sehat dan berkelanjutan. Keberagaman judul yang mereka pilih menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menulis untuk memenuhi tugas, tetapi juga menyuarakan keresahan dan harapan mereka terhadap isu ketahanan pangan di lingkungan sekitar.
Keberhasilan kegiatan ini juga tidak lepas dari bimbingan intensif guru pamong, Nur Salamah, S.S., M.Li., yang mendampingi proses perencanaan hingga pelaksanaan pembelajaran. Arahan mengenai pengelolaan kelas, penguatan pertanyaan pemantik, serta strategi mendorong siswa berani berargumen, menjadi bekal penting bagi terlaksananya pembelajaran yang aktif dan bermakna ini.
Melalui kegiatan ini, siswa MAN 3 Bantul tidak hanya berlatih menyusun teks argumentasi sesuai kaidah kebahasaan, tetapi juga belajar bahwa menulis adalah cara untuk bersuara dan berpikir kritis terhadap persoalan di sekitar mereka. Pangan lokal, yang sering dianggap sepele, ternyata mampu menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami isu yang jauh lebih besar: keberlanjutan, kemandirian, dan masa depan bangsa.
MAN 3 Bantul beralamat di Jalan Imogiri Timur KM 10, Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Oleh: Nurul Husna Hikmawati
Universitas Negeri Yogyakarta