Sumiyati
Kontributor
Bantul (MAN 3 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul kembali menghadirkan refleksi keislaman melalui program dakwah digital SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA). Pada episode ke-10 tahun 1447 H, tema yang diangkat adalah “Wujudkan Ramadan Gemah Ripah Loh Jinawi”, yang mengajak masyarakat memahami bahwa kemakmuran bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi, tetapi juga melalui keseimbangan nilai spiritual dan sosial. Tausiah disampaikan oleh Ibnus Sakan Al Faishal, S.S., M.Sc., guru Bahasa Arab dan Tahfidz, yang memaparkan konsep ketahanan negeri dari sudut pandang hikmah klasik.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kejayaan sebuah bangsa hanya dapat terwujud apabila empat unsur utama berjalan selaras. Unsur pertama adalah peran ulama yang menjaga moral dan arah kehidupan masyarakat melalui ilmu dan keteladanan. Kedua, kepemimpinan yang adil dari para pemangku kebijakan, yang harus berani menegakkan kejujuran serta menjauhi penyalahgunaan wewenang demi terciptanya rasa aman dan kepercayaan rakyat.
Unsur ketiga adalah peran kaum agniya atau orang-orang yang diberi kelapangan rezeki. Menurutnya, kekayaan seharusnya tidak hanya dinikmati secara pribadi, tetapi juga dimanfaatkan untuk kepentingan sosial melalui sedekah, zakat, dan berbagai bentuk kepedulian. Sementara itu, unsur keempat yang sering terlupakan justru memiliki kekuatan besar, yaitu doa kaum fakir. Ia menegaskan bahwa ketulusan doa dari mereka menjadi penjaga keberkahan dan keselamatan negeri.
Lebih lanjut, Ibnus Sakan menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu terbaik untuk memperbaiki peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak semua lapisan untuk melakukan evaluasi diri dan memperkuat sinergi agar tercipta kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Menurutnya, kondisi gemah ripah loh jinawi bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan hasil dari tanggung jawab bersama yang dijalankan dengan ikhlas dan penuh kesadaran
Bantul (MAN 3 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul kembali menghadirkan refleksi keislaman melalui program dakwah digital SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA). Pada episode ke-10 tahun 1447 H, tema yang diangkat adalah “Wujudkan Ramadan Gemah Ripah Loh Jinawi”, yang mengajak masyarakat memahami bahwa kemakmuran bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi, tetapi juga melalui keseimbangan nilai spiritual dan sosial. Tausiah disampaikan oleh Ibnus Sakan Al Faishal, S.S., M.Sc., guru Bahasa Arab dan Tahfidz, yang memaparkan konsep ketahanan negeri dari sudut pandang hikmah klasik.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kejayaan sebuah bangsa hanya dapat terwujud apabila empat unsur utama berjalan selaras. Unsur pertama adalah peran ulama yang menjaga moral dan arah kehidupan masyarakat melalui ilmu dan keteladanan. Kedua, kepemimpinan yang adil dari para pemangku kebijakan, yang harus berani menegakkan kejujuran serta menjauhi penyalahgunaan wewenang demi terciptanya rasa aman dan kepercayaan rakyat.
Unsur ketiga adalah peran kaum agniya atau orang-orang yang diberi kelapangan rezeki. Menurutnya, kekayaan seharusnya tidak hanya dinikmati secara pribadi, tetapi juga dimanfaatkan untuk kepentingan sosial melalui sedekah, zakat, dan berbagai bentuk kepedulian. Sementara itu, unsur keempat yang sering terlupakan justru memiliki kekuatan besar, yaitu doa kaum fakir. Ia menegaskan bahwa ketulusan doa dari mereka menjadi penjaga keberkahan dan keselamatan negeri.
Lebih lanjut, Ibnus Sakan menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu terbaik untuk memperbaiki peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak semua lapisan untuk melakukan evaluasi diri dan memperkuat sinergi agar tercipta kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Menurutnya, kondisi gemah ripah loh jinawi bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan hasil dari tanggung jawab bersama yang dijalankan dengan ikhlas dan penuh kesadaran.