man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

Kepala MAN 3 Bantul Tampil di SUWAIBA Perdana Edisi Ramadan 1447 H

Abban Said

Kontributor

67
Jumat, 20 Februari 2026 · 02:14 WIB
Blog Image

Bantul (MAN 3 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul resmi meluncurkan episode perdana program SUWAIBA (Asupan Jiwa MAN 3 Bantul) untuk tahun 1447 Hijriah, Jumat (20/02/2026). Mengusung tema "Menjadi Pribadi yang Muta’addi", kegiatan ini menjadi ruang refleksi spiritual bagi seluruh civitas akademika di tengah padatnya rutinitas pendidikan.

Kepala MAN 3 Bantul, Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd., hadir sebagai pemateri utama. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa keberhasilan ibadah seseorang—mulai dari shalat hingga puasa—tidak hanya diukur dari kesalehan ritual di atas sajadah, melainkan dari dampak sosial yang dihasilkan atau yang disebut sebagai konsep Muta’addi.

Merujuk pada kitab Syajaratul Ma’arif Wal Ahwal karya Syekh Izzuddin bin Abdus Salam, Dr. Suyanto menjelaskan bahwa muara akhir dari segala amal adalah perbaikan pada dua aspek: Akwal (perkataan) dan A’mal (perbuatan). "Seluruh ibadah kita sejatinya adalah instrumen untuk memperbaiki kualitas ucapan dan tindakan kita sehari-hari," tegasnya.

Menariknya, Dr. Suyanto memberikan sorotan tajam pada dimensi lisan di era digital. Menurutnya, definisi "lisan" kini telah bertransformasi; tidak hanya apa yang diucapkan mulut, tetapi juga apa yang diketik oleh jemari. Ia mengingatkan bahwa di era media sosial, tangan manusia telah menjadi perwakilan lisan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
"Sesuai ayat 'Alyauma nakhtimu 'ala afwahihim wa tukallimuna aidihim', kelak mulut dikunci dan tanganlah yang bicara. Maka, perbaikan akwal hari ini termasuk integritas kita dalam menulis status, berkomentar, dan menyebarkan informasi di dunia maya," tambah Dr. Suyanto di hadapan para jamaah.

Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk mengejar derajat Ihsan Muta’addi. Artinya, setiap individu diharapkan menjadi pribadi yang manfaatnya "meluber" dan dirasakan oleh orang lain, baik melalui amal lahiriah maupun batin. Dengan begitu, predikat la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa) tidak hanya menjadi jargon, tetapi mewujud nyata dalam perubahan sosial yang positif.(Ris)