Abban Said
Kontributor
Bantul (MAN 3 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul mempertegas komitmennya dalam menjaga tradisi luhur sekaligus membentengi moralitas siswa di era digital. Melalui program "Syawalan Keliling", ratusan siswa dari jenjang kelas X, XI, dan XII melakukan safari silaturahmi ke-14 pondok pesantren mitra di wilayah Bantul pada Senin (30/3). Kegiatan ini bukan sekadar seremoni pasca-Lebaran, melainkan upaya integratif untuk menyelaraskan pendidikan formal madrasah dengan kedalaman spiritual pesantren.
Kepala Madrasah menegaskan bahwa skema syawalan tahun ini dibuat lebih spesifik; satu kelas mengunjungi satu pesantren didampingi wali kelas dan guru pendamping Langkah ini diambil guna menciptakan ruang dialog yang lebih intensif dan personal antara siswa dengan para pengasuh pondok. Adapun pesantren mitra yang menjadi tujuan safari ini meliputi PP Al Wahbi, Al Imam, Bodho Al Abyan, Ya'alumil Qur'an, Abdul Azis, Al Mahalli, Miftahul Ulum 2, Baiquniyah, Alfitroh, An-Ni'mah, Nahdhatusy Syubhan 1 & 2, Al Rusydi, hingga Hidayatul Mubtadiin.
Salah satu momen khidmat terekam di Pondok Pesantren Nahdhatusy Syubhan 2. Rombongan kelas XI E yang didampingi wali kelas Muhammad Herdyan Prasetyo, S.Pd., serta guru pendamping Ris Mulyati Sholikhatul Muslikah, S.Pd., dan Seno Nyoman Yasir Maulud, disambut langsung oleh pengasuh pesantren. Di hadapan para siswa, Pak Kyai memberikan "kuliah kehidupan" mengenai tantangan pergaulan di jagat maya yang kian kompleks.
"Generasi hari ini adalah warga digital. Namun, kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan kehati-hatian. Pergaulan di dunia maya penuh dengan fitnah dan konten yang bisa mengikis iman," pesan Pak Kyai dalam tausiyahnya. Beliau juga mengingatkan bahwa kunci utama keberkahan ilmu adalah ketaatan kepada pendidik. "Tingkatkan intensitas belajar dan patuhi nasihat bapak-ibu guru di madrasah. Tanpa adab dan restu guru, ilmu hanyalah wawasan tanpa keberkahan," imbuhnya.
Menanggapi pesan tersebut, Muhammad Herdyan Prasetyo selaku wali kelas mengungkapkan bahwa wejangan dari tokoh agama sangat krusial sebagai pengingat (reminder) bagi siswa di tengah gempuran disrupsi informasi. Program tahunan ini diharapkan mampu memperkuat ikatan batin antara madrasah dan pesantren mitra, sekaligus mencetak kader bangsa yang unggul secara intelektual namun tetap berpijak pada nilai-nilai akhlakul karimah dan ketawaduan.(Ris)