man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

SUWAIBA #28 MAN 3 Bantul: Bisa Jadi Ini Ramadan Terakhir

Abban Said

Kontributor

85
Rabu, 25 Maret 2026 · 02:43 WIB
Blog Image

Bantul (MAN 3 Bantul) – Kesadaran akan keterbatasan waktu merupakan katalisator utama dalam meningkatkan kualitas spiritualitas manusia. Pesan eskatologis inilah yang mewarnai program SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA) Episode ke-28 yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi MAN 3 Bantul pada Rabu (19/03/2026). Menghadirkan Zayyana Azizah, akademisi muda dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kajian kali ini mengusung tema reflektif: "Bisa Jadi Ini Ramadan Terakhir."

Zayyana membuka narasinya dengan membedah realitas sosiologis di mana manusia sering kali terjebak dalam "eufaria musiman". Kegembiraan menyambut bulan suci kerap kali menutup mata kita terhadap fakta bahwa usia adalah variabel yang tidak pernah dalam kendali manusia. Bersandar pada QS. Ali Imran ayat 185, ia mengingatkan bahwa kematian bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan garis pembatas yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap detik yang dilewati.

Dalam ulasannya, Zayyana menekankan urgensi internalisasi prinsip "Five Matters before Five" yang diajarkan Rasulullah SAW. Ia mengajak audiens untuk melakukan dekonstruksi cara pandang dalam beribadah; tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menjalani setiap sujud seolah itu adalah persembahan terakhir. "Kesadaran bahwa waktu kita terbatas seharusnya memicu transformasi total. Ibadah tidak lagi dilakukan dengan kemalasan atau sekadar mengejar ritualitas yang sia-sia, melainkan dengan ketundukan yang absolut," paparnya.

Lebih dalam, Zayyana menyoroti paradoks spiritual pasca-Ramadan—sebuah kondisi di mana grafik ketakwaan sering kali melandai tajam setelah Idulfitri. Padahal, ia menegaskan, indikator maqbul (diterimanya) amal seseorang menurut para ulama tecermin dari keberlanjutan kebaikan (istiqamah) setelah masa ibadah tersebut usai. Keberhasilan Ramadan sejati tidak diukur dari statistik ritus selama 30 hari, melainkan pada sejauh mana karakter tersebut bertransformasi menjadi lebih humanis dan taat secara konsisten.

Sebagai penutup, ia mengajak para santri dan masyarakat untuk melakukan rekonsiliasi total—baik secara vertikal kepada Allah melalui taubat, maupun horizontal kepada sesama melalui permohonan maaf dan penjagaan lisan. Program SUWAIBA ini menegaskan peran MAN 3 Bantul sebagai institusi yang tidak hanya fokus pada kecerdasan kognitif, tetapi juga penguatan literasi jiwa. Di akhir sesi, ditekankan bahwa setiap tarikan napas di bulan suci adalah investasi abadi yang tidak boleh disia-siakan sebelum pintu kesempatan tertutup rapat. (Ris)