Abban Said
Kontributor
Bantul (MAN 3 Bantul) – Di tengah hiruk-pikuk disrupsi digital yang seringkali mengikis nilai-nilai kesantunan tradisional, MAN 3 Bantul (MANTABA) mengambil langkah progresif melalui media dakwah kreatif. Program unggulan bertajuk SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA) kembali hadir menyapa ruang digital masyarakat pada Sabtu (21/03/2026). Memasuki episode ke-30 di tahun 1447 H, program ini membawa diskursus krusial mengenai "Berbakti kepada Orang Tua" sebagai fondasi utama karakter generasi Z.
Hadir sebagai narasumber, Aufa Akmala Niswah, mahasiswa Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, membedah secara mendalam kedudukan birrul walidain dalam struktur teologi Islam. Aufa menekankan bahwa perintah berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar anjuran etis, melainkan perintah vertikal yang disejajarkan langsung dengan perintah mentauhidkan Allah SWT. Mengutip QS. Al-Isra ayat 23, ia menjelaskan bahwa pemeliharaan orang tua di usia senja adalah ujian kesabaran dan tiket menuju kemuliaan bagi seorang anak.
"Bakti itu dimulai dari ketersediaan telinga untuk mendengar dan lisan yang terjaga dari kalimat 'ah'," tegas Aufa dalam siaran YouTube tersebut. Ia memaparkan bahwa mikro-agresi verbal seperti membentak atau menunjukkan wajah jengkel seringkali menjadi noda yang menghalangi keberkahan hidup. Baginya, penghormatan kepada orang tua adalah bentuk ibadah yang sangat mendetail, di mana setiap tutur kata mulia (qaulan karima) dihitung sebagai investasi akhirat yang tak ternilai harganya.
Lebih lanjut, diskursus ini menyoroti korelasi antara ridho orang tua dengan takdir Tuhan. Mengacu pada hadis Rasulullah SAW, Aufa mengingatkan bahwa kunci sukses di dunia dan akhirat tidak semata-mata bergantung pada kecerdasan kognitif, melainkan pada ketulusan melayani orang tua. Bahkan ketika orang tua telah tiada, pengabdian seorang anak tetap dipandang sebagai "ibadah tanpa jeda" melalui untaian doa, sedekah jariyah, serta menjaga marwah dan nama baik yang telah mereka bangun.
Sebagai penutup yang menyentuh nurani, Aufa mengajak para siswa dan pemirsa untuk merefleksikan kembali hubungan domestik mereka. Ia menegaskan bahwa waktu adalah aset yang tidak bisa diputar kembali, dan penyesalan terdalam sering kali muncul ketika kesempatan berbakti telah terenggut oleh maut. Melalui SUWAIBA, MAN 3 Bantul berkomitmen untuk terus mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kelembutan hati dan integritas akhlak di hadapan orang tua mereka. (Ris)