Abban Said
Kontributor
BANTUL (MAN 3 Bantul) – Selasa pagi (6/1/2026), suasana di ruang kelas XI A tampak berbeda dari biasanya. Tepat pukul 07.00 hingga 08.30 WIB, ruang kelas tersebut berubah menjadi panggung ekspresi yang dinamis saat mata pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung. Mengangkat materi membaca puisi, sang guru pengampu berhasil menciptakan terobosan baru yang mengubah kecanggungan siswa menjadi aksi panggung yang memukau.
Guru pengampu menyadari bahwa mengajarkan puisi bukan sekadar mentransfer teori, melainkan seni olah rasa yang memerlukan kombinasi antara pemahaman batin dan praktik nyata. Pembelajaran diawali dengan metode demonstrasi, di mana guru memberikan contoh pembacaan puisi dengan ekspresi wajah yang kuat serta intonasi yang mendalam. Langkah ini bertujuan untuk memantik imajinasi siswa sebelum mereka terjun langsung mempraktikkannya.
Namun, kendala klasik muncul saat sesi praktik mandiri dimulai. Banyak siswa yang merasa malu dan kurang percaya diri, sehingga pembacaan puisi terkesan datar dan tidak "totalitas". Upaya awal guru dengan membagi siswa ke dalam kelompok untuk membaca per bait pun dirasa belum optimal. "Awalnya saya coba berkelompok per bait, tapi mereka hanya fokus membaca tanpa rasa. Makna puisinya jadi tidak sampai ke pendengar," ungkap guru pengampu saat merefleksikan jalannya kegiatan.
Tak kehilangan akal, pada sisa waktu pembelajaran, guru segera melakukan inovasi melalui metode permainan "Puisi Berantai Meja Bundar". Dalam formasi melingkar, setiap siswa hanya diberi tanggung jawab untuk membacakan satu baris puisi saja, namun dengan syarat wajib mengerahkan ekspresi dan penjiwaan penuh. Strategi ini terbukti ampuh meringankan beban mental siswa yang sebelumnya merasa tertekan jika harus membaca puisi secara utuh.
"Saya ingin beban mereka terasa ringan. Dengan hanya membaca satu baris, mereka bisa lebih fokus pada satu titik ekspresi saja. Ternyata, saat melihat temannya tampil bagus, siswa yang lain jadi ikut terpacu untuk tampil lebih maksimal," tambahnya dengan nada puas. Efek domino positif ini menciptakan kompetisi sehat di dalam kelas, di mana setiap siswa berusaha saling mengimbangi totalitas rekan satu kelompoknya.
Hingga bel berakhirnya pelajaran berbunyi pada pukul 08.30 WIB, energi kreatif di kelas XI A masih terasa hangat. Inovasi ini membuktikan bahwa pendekatan yang interaktif dan menyenangkan mampu meruntuhkan tembok rasa malu siswa. "Kuncinya adalah membuat mereka merasa bahwa membaca puisi itu menyenangkan, bukan sebuah beban yang menakutkan," pungkas sang guru menutup sesi pembelajaran pagi itu.(Ris)