BAYANGKAN
(bagian kedua)
Karya: Alyna Yukha Rizqananda
Bab 12
Gema Festival Cahaya
Keesokan harinya, aula utama Aurea High Academy bersinar seperti istana. Lampion-lampion sihir melayang di udara, warna-warninya menari di antara alunan musik dan tawa para siswa. Festival Cahaya — perayaan tahunan untuk menandai perdamaian dan perayaan atas kejayaan dunia manusia — akhirnya dimulai.
Alevia berdiri di depan panggung utama, mengenakan gaun rok pendek putih sederhana dengan hiasan merah pucat di bagian pinggirnya Seakan sudah waspada, dia selalu membawa batu pelindung sihir kemanapun. Batu itu pemberian Kai tadi malam..
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Kai lembut. Keduanya berada di dalam kamar Alevia—untuk menghindari mata para murid yang masih berkeliaran di luar kamar asrama.
“Bayangan itu.. kembali menerorku malam ini. Tidak hanya malam ini, kemarin, dan selama ini. Kepalaku terus terngiang suaranya yang tajam dan mengerikan.” rintih Alevia. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Kai menghela nafas panjang. Rasanya seperti dejavu. Tapi kali ini dirinya tidak akan kecolongan sama seperti dulu. Tangannya merogoh saku celana sebelah kanan, meraih sebuah benda berbentuk segi lima dengan warna biru muda seperti es beku yang abadi.
Benda itu diacungkannya kepada Alevia yang duduk di hadapannya. “Simpanlah ini, bawa kemanapun kamu pergi. Bayangan itu tidak akan mengganggumu lagi” ucap Kai menenangkan.
Alevia menatap batu itu sejenak. Matanya menelusuri setiap ukiran dalam batu itu. “Batu apa ini?” Tanyanya. “Batu sihir. Di dalamnya ada sihirku, aku bisa tahu dimanapun kamu berada, dan apakah kamu dalam bahaya atau tidak, maka bawalah kemanapun” jelas Kai.
Alevia meraih batu itu dengan tangan nya yang lebih mungil dari Kai. Sekilas tampak halus dan kasar secara bersamaan. Alevia memandang batu itu dalam waktu yang lama.
Kai menepuk bahu gadis itu. “Sudah tenang sekarang? kalau begitu aku akan kembali ke kamarku.”
Tepat sebelum Kai menurunkan tangannya dari pundak Alevia, tangan nya digenggam erat. “Tidak, tunggu sampai aku tertidur.” lirihnya.
♠
Tak lama Alevia tersadar dari lamunan nya. Sekitarnya sudah ramai oleh para murid yang berbincang dan berbagi canda tawa hampir di setiap sudut ruangan. Kai yang mengenakan mantel biru gelap mendekat sambil membawa dua gelas jus buah.
“Untukmu sebagai hadiah karena sudah berlatih keras minggu ini,” katanya dengan senyum khasnya. Alevia tertawa kecil. “Itu bukan hal yang harus kau apresiasi.”
Kai menatapnya sebentar, lalu dengan nada lebih rendah, “Aku tahu kau sudah banyak berubah akhir-akhir ini, Lev. Tapi hari ini biarkan aku lihat senyummu yang sebenarnya, yang bukan dipaksakan.”
Alevia menatapnya — mata biru Kai berkilau di bawah cahaya lampion, sangat indah seperti batu sihir yang diberikannya semalam. Seperti biasa, di sudut aula, Harris memperhatikan mereka berdua dengan wajah tenang—yang sebenarnya sudah tidak tenang.
“Perhatian teman-teman dan hadirin semuanya!” suara Nara menggema dari atas panggung. “Kita akan memulai acara pembuka kita, Cahaya Harapan! Semua peserta, nyalakan kristal kalian!”
Kristal yang dimaksud adalah kristal sihir yang berisi energi sihir cadangan milik masing-masing murid. Semua murid di awal masuk pasti mendapat itu. Guna menyimpan energi cadangan dan juga dapat dinyalakan untuk pembukaan acara resmi.
Satu per satu, para murid mengangkat kristal kecil milik mereka ke udara. Cahaya nya berwarna warni memenuhi ruangan, menari di udara seperti bintang-bintang kecil.
Alevia mengeluarkan kristal miliknya yang berwarna hijau sama seperti manik matanya. Cahayanya bersinar terang ketika Alevia meniupkan mantra. Kai yang ada di sebelahnya ikut melakukan hal yang sama pada kristal birunya.
“Baik semuanya sudah menyala ya! sekarang ayo kita buat sebuah harapan sebelum kristal ini kita terbangkan” teriak Nara dari atas panggung menggunakan pengeras suara sihir yang sudah ia mantrakan di mulutnya.
“Lev, bolehkah aku menyebut namamu dalam harapan yang akan ku langitkan?” bisik Kai di telinga Alevia. Anggukan dengan senyum ramah ia dapatkan sebagai jawaban setuju. Kai membalas senyum itu. Semua orang memejamkan mata dan melantunkan harapan mereka dalam kristal itu. Banyak aura energi sihir yang bertebaran ikut merayakan.
“Aku harap nilai ujian sihir ku bagus!”
“Aku ingin lolos seleksi dewan sihir!”
“Semoga aku bertahan di akademi ini..”
“Aku ingin cepat mendapatkan seseorang yang spesial di hidupku”
“Semoga dia juga mencintaiku”
“Aku ingin pertemanan ini bertahan selamanya”
“Aku ingin sihirku bertambah kuat dan semakin kuat”
“Aku akan menang dalam pertandingan sihir tahun depan”
“Semoga sidang ku dilancarkan”
“Aku ingin lulus dengan nilai terbaik”
“Aku ingin dia bahagia dengan pilihannya”
“Semoga Alevia selalu dilindungi dari bahaya, dan kuatkan aku untuk melindunginya”
“Semoga semua masalah ini cepat berlalu”
“Aku ingin Harris dan Kai damai”
“Aku ingin semuanya mendapat kedamaian dan kemenangan dalam diri mereka. Semoga Harris menemukan seseorang yang cocok untuknya, semoga Kai selalu diikuti kebahagiaan, semoga Nara selalu ceria, semoga Reno bisa mendapatkan perempuan idamannya yang dia ceritakan itu. Dan semoga teror bayangan ini segera musnah”
Suara sahut-menyahut itu bergema dalam ruangan tanpa terdengar oleh indra pendengaran. Nara tersenyum dan membuka matanya dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Baik semuanya, marilah kita terbangkan harapan kita! dalam hitungan 3…2…” Nara menjeda hitung mundur itu. “1! Terbangkan!”
Semua kristal itu kini mulai melayang perlahan ke langit-langit aula. Senyum kebahagiaan, tangis haru dan juga rasa senang mulai menyelimuti aula. Festival Cahaya ini adalah acara yang sangat sakral, dimana keinginan mereka pasti dikabulkan.
Namun sesuatu terasa aneh bagi Alevia. Cahaya gelang di pergelangannya tidak bersinar lembut kali ini — tapi bergetar, nyaris seperti sesuatu hendak datang. Tiba-tiba, lampu-lampu di aula padam menyisakan lampion yang hanya menerangi kecil. Teriakan histeris terdengar, diikuti oleh suara kaca yang pecah. Gelas yang jatuh berserakan dan makanan yang sudah tak berbentuk indah lagi.
Dan dari tengah panggung muncul celah hitam, seperti retakan di udara. Dingin menembus kulit mereka yang ada disana. Nara langsung melompat turun dari panggung, berdiri di barisan teman-teman pertahanan sihir lainnya.
“Kita berjumpa lagi disini ternyata,” Suara itu lembut, tapi menggema di seluruh aula. “Apa kalian merindukanku?”
Semua mata memandang ke sumber suara itu.
Dari balik retakan hitam, sosok muncul perlahan — berjas gelap, mata biru menyala, rambut hitam legam tak jelas berbentuk.
Theodore Black.
BAB 13
Sebelum Dunia Terbalik
Harris refleks berdiri di depan Alevia, belati kecil nya terangkat. “Mau apa kau disini?!”
Theo hanya tersenyum. “Tenang saja, Ravendra kecil. Aku datang bukan untuk berperang seperti beberapa tahun yang lalu…” Tatapannya beralih pada Alevia. “Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya berada di sisiku saat ini.”
Alevia menatap Theo dengan mata lebar. “Kau..?!”
“Lev? Kau mengenalnya?” tanya Kai cepat, suaranya menegang.
Sebelum Alevia bisa menjawab, Theodore mengangkat tangannya. Bayangan di bawah kaki para siswa hidup — berubah menjadi makhluk hitam yang merangkak keluar dari lantai, matanya merah menyala.
Suara teriakan dan rapalan mantra sihir memenuhi ruangan. Nara menyalakan perisai, Kai langsung melompat ke depan untuk membantu Harris menahan serangan yang Theodore luncurkan.
“BERLINDUNG ALEVIA!” teriak Harris. Tapi Alevia berdiri mematung. Cermin di dinding aula bergetar hebat — memperlihatkan ratusan bayangan yang meniru gerakannya.
Dan di tengah semuanya, Theodore melangkah mendekat sambil tersenyum lembut, seolah perang di sekitarnya tak berarti. “Dunia mereka tidak akan pernah menerimamu sepenuhnya, Alevia. Kau tahu itu.”
“Cahaya di dalam dirimu bukan milik mereka, tapi milik kami.”
Gelang putih di tangan Alevia mulai bersinar sangat terang, hingga Harris menutupi matanya. Lalu tiba-tiba, dari gelang itu keluar semburan cahaya kuning dan hitam bersamaan, menghantam makhluk-makhluk bayangan, tapi juga meretakkan lantai aula.
Alevia jatuh berlutut, napasnya terengah. “Apa… yang terjadi…?”
Theo menatapnya dengan lembut. “Tubuhmu hanya mulai mengingat siapa dirimu sebenarnya.”
Kai berlari ke arahnya, menahan bahunya. “Lev! Dengar aku! Kau harus tenang—”
Namun saat tangannya menyentuh bahu Alevia, semburan sihir dari gelang putih memantul kuat hingga Kai terpental beberapa meter. Harris langsung menahan tubuh Kai yang jatuh, lalu menatap Alevia dengan ekspresi kaget dan ketakutan. “Alevia…?”
Satu mata Alevia mulai memantulkan warna biru gelap, dan satunya seperti kuning menyala. Seperti dua cermin yang hidup. Theodore menatapnya puas.
“Segelnya mulai retak.” Dengan suara lembut, ia mengulurkan tangan. “Ikutlah denganku, Alevia. Aku bisa menghapus semua rasa sakit yang kau pendam itu. Dunia ini tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.”
Alevia menatap tangannya lalu menatap Harris, yang berdiri tak jauh yang menatapnya dengan mata penuh tanda tanya dan kekhawatiran. Dan untuk pertama kalinya, Alevia tidak tahu harus percaya pada siapa.
Kaca lampion di sekeliling mereka pecah. Theo tertawa pelan, lalu menghilang bersama pusaran bayangan, meninggalkan kalimat terakhirnya pada gadis bermata dwiwarna itu. “Kau tahu dimana harus mencariku… pintu Dunia Cermin selalu terbuka untukmu.”
Seketika semuanya mereda, aula berantakan. Beberapa murid pingsan, lampion padam, dan hanya terdengar rintik hujan yang mulai turun di luar jendela. Selalu. Hujan selalu turun ketika bayangan itu menembus dunia manusia.
Alevia berdiri di tengah reruntuhan — tubuhnya gemetar, gelang putihnya retak sedikit di sisi kanan. Harris berjalan mendekat, wajahnya penuh luka. “Lev… apa yang terjadi denganmu?”
Alevia menatap gelang itu, lalu membisik lirih, “Aku… tidak tahu lagi siapa aku, Harris.”
Deg. Harris terdiam seribu bahasa. Tangannya tergerak merengkuh kepala Alevia ke dadanya. Di elus nya surai coklat panjang itu dengan hati-hati.
Dan malam itu, di atas puing-puing aula, Festival Cahaya berubah menjadi awal dari kegelapan yang mulai menyerbu dunia manusia. Akankah pertemanan mereka mampu melawan Theodore yang sekuat itu? ataukah justru sebuah cinta yang hebatlah yang akan melawan?
BAB 14
Rahasia Masa Lalu
Keesokan paginya, langit di atas Aurea High Academy tampak muram. Sisa-sisa puing dari Festival Cahaya masih berserakan di aula, lampion-lampion hancur bergantungan tanpa cahaya, dan aroma logam berlumur darah samar masih tertinggal di udara.
Tidak ada tawa, tidak ada musik hanya keheningan yang menekan seperti kabut tebal. Harris berdiri di tepi balkon asrama timur, menatap ke arah aula yang kini dipenuhi tim pembersih sihir. Angin dingin berhembus kencang, menerpa rambut hitam gelapnya yang acak-acakan. Ia belum tidur sama sekali sejak kejadian semalam.
“Lev... kenapa kau terlihat seperti orang lain semalam?”
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Pikiran itu terus mengulang, seperti mantra yang menolak lenyap.
Suara langkah mendekat membuatnya menoleh. Kai muncul, dengan wajah lelah tapi mata masih menyisakan tatapan dingin seperti biasanya. Ia bersandar di pagar balkon, menatap ke bawah tanpa bicara untuk beberapa saat.
“Dia belum bangun?” tanya Kai akhirnya. Harris menggeleng pelan. “Masih di ruang perawatan. Luka fisiknya ringan, tapi auranya sangat berantakan.”
Kai mendengus pendek. “Aku sudah bilang dari awal, si Theodore itu bukan cuma makhluk biasa. Tapi kenapa dia tahu nama Alevia, Harris? Dan tadi malam, kau tampak sangat ketakutan. Apa yang sedang kau sembunyikan Harris?”
Harris menegang. Ia tidak langsung menjawab, tapi Kai melanjutkan dengan nada curiga. “Jangan pura-pura tidak tahu. Saat makhluk itu bicara, matamu ikut bereaksi. Aku lihat itu.”
Harris mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Itu bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku?” Kai membalas tajam. “Alevia hampir kehilangan kendali, Harris! Dia bahkan melukai semua orang tanpa sadar! Kalau kau tahu sesuatu, kau harus bilang sekarang sebelum dia—”
“Cukup, Kai!” suara Harris meninggi, membelah udara dingin.
Untuk sesaat, aura sihir gelap muncul di sekelilingnya, intens, dan berbeda dari biasanya. Kai terdiam, matanya membesar terkejut.
“Kau… kau memakai sihir gelap?” katanya nyaris berbisik. Harris menunduk, tapi tak menyangkal. “Sihir yang kumiliki berbeda. Ini bukan sihir biasa.”
Kai memandangnya tak percaya. “Jadi rumor itu benar? Bahwa keluargamu pernah bekerja untuk Klan Black?” potong Kai dingin.
“Pamanku adalah salah satu penjaga The Mirror Gate sebelum Theodore dikurung. Tapi Theodore membunuhnya. Lalu sisa-sisa sihir milik pamanku diberikan kepadaku.” Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan pahit.
Kai tak bisa bicara. Angin berhembus kencang lagi, menggoyangkan dedaunan kering di bawah asrama. Harris menatap langit suram di kejauhan.
“Theodore tahu siapa aku.” ucap Harris pelan. “Dia ingin aku melihat bagaimana rasanya kehilangan seseorang lagi, dia ingin balas dendam atas apa yang terjadi padanya.”
Kai terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Lalu kenapa dia juga mengincar Alevia?”
Harris menghela napas panjang. “Karena dia melihat bayangan ibu kandung Alevia di dalam diri Alevia.”
Kai mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
“Dulu, sebelum disegel, Theodore punya pengikut, seorang penyihir cahaya yang mengkhianati Klan White demi menyelamatkan keluarganya. Dia mati di dunia cermin, tapi sebelum mati, ia melepaskan sebagian kekuatannya dan mewariskan nya… dan itu akhirnya terlahir kembali di dalam tubuh Alevia yang sekarang kita kenal.”
Kai tertegun. “Jadi maksudmu, Lev bukan gadis biasa.”
Harris mengangguk pelan. “Dia adalah kunci. Harapan terakhir yang bisa membuka segel dunia cermin sepenuhnya.”
“Lalu bagaimana kau tahu semua itu? Bagaimana kau tahu semua hal tentang Alevia?” Tanya Kai dengan nada menginterogasi. Harris menelan ludah kasar, pertanyaan inilah yang paling dihindari olehnya.
“Aku hanya sudah lama mengenalnya. Sebelum dia pindah kesini”
Keheningan menggantung lama di antara keduanya. Hanya suara angin yang terdengar, membawa dingin dan kecemasan. Kai akhirnya bersuara lirih, “Jadi karena itu kau menyuruh kami melindunginya, ya? Karena kau tahu dia kunci yang bisa menghancurkan dunia?”
Harris menatap Kai dengan mata panda yang lelah. “Aku ingin melindunginya bukan karena dia seorang target, Kai. Tapi karena dia Alevia.”
Kalimat itu membuat Kai menunduk. Ada sesuatu yang menusuk dadanya. Namun sebelum ia bisa membalas, suara langkah cepat datang dari tangga. Nara berlari ke arah mereka dengan wajah pucat.
“Kalian harus ke ruang perawatan sekarang! Alevia—dia menghilang!” Dunia seolah berhenti berputar.
Harris segera berlari, menyusul Nara tanpa menunggu apa pun. Kai menyusul di belakang, jantungnya berdegup kencang. Mereka berdua tahu — jika Alevia menghilang setelah gelangnya retak, maka satu-satunya tempat yang mungkin ia tuju...
hanyalah Dunia Cermin.
BAB 15
Pintu Dunia Lain
Langit sore di Aurea High Academy, memantulkan warna oranye pucat. Batu sihir yang terhubung antara Kai dan Alevia sama sekali tidak membantu kali ini. Setelah pencarian panjang melewati berbagai cermin yang mereka temui di seluruh sudut akademi, Harris dan Kai akhirnya menemukan pintu menuju tempat Theodore bersembunyi — Dunia Cermin.
Udara di sekitar cermin itu terasa berat, tertekan seperti hampir pecah. Kai, Reno, dan Nara berdiri di belakangnya. Tak ada yang bicara selama beberapa detik, hanya napas mereka yang terdengar di antara desir angin.
“Kau yakin Alevia masuk ke dalam sana?” tanya Nara pelan.
“Dia meninggalkan jejak sihir di sini,” jawab Harris, menatap pantulan dirinya di permukaan cermin besar itu. “Dan aku tahu dia tidak akan memanggilku untuk diselamatkan. Tapi untuk dihentikan.”
Kai menatap Harris lama, ekspresinya sulit diartikan saat ini. “Kalau dia sudah berpihak ke Theodore, apa kau akan tetap melawannya, Harris?” tanya Reno.
Harris tak menjawab. Ia hanya menempelkan segel di telapak tangannya ke permukaan kaca. Cahaya putih berputar cepat, menelan mereka semua.
♦
Mereka mendarat di hamparan licin berwarna perak. Dunia di sekeliling tampak terpantul, seolah semua sisi adalah cermin hidup. Langitnya seperti permukaan air yang memantulkan cahaya redup.
“Tempat ini…” gumam Reno. “Indah, tapi dingin,” sahut Nara lirih.
Tiba-tiba, suara langkah bergema di antara kabut. Sosok berjubah hitam muncul — Theodore Black, dengan senyum halus dan mata kelam. Di sisinya berdiri seseorang yang sedari tadi mereka cari, Alevia.
Namun, Alevia bukan lagi gadis yang mereka kenal. Rambutnya kini memutih seperti salju, matanya yang masih memiliki 2 warna berbeda. Di pergelangan tangannya, gelang putih yang dulu melindunginya kini hanya seperti gelang biasa yang rusak dan kusut. Menyisakan sinar redup berdenyut di kulitnya.
“Alevia…” panggil Harris lirih. Alevia menatap teman-temannya datar, namun dibalik tatapan itu tersirat banyak hal. “Seharusnya kalian tidak disini.”
Kai maju setengah langkah. “Kami datang untuk membawamu pulang. Kau yang tidak seharusnya disini, Lev.”
Alevia menatap Kai lama, pandangan yang dulu lembut, kini kosong. “Kau pikir aku dijebak? Tidak Kai. Aku yang memilih ini.”
Theodore tersenyum puas. “Ia akhirnya memahami arti kebebasan. Dunia kalian selalu mengekangnya dengan aturan, harapan, cinta palsu. Tapi di sini? dia bebas. Karena ini dunianya.”
Reno mengepalkan tangan. “Bebas apa namanya kalau kau mengurungnya di balik cermin?!”
Theo tertawa rendah. “Kurungan? Dunia ini adalah cerminan hatinya. Aku hanya membuka pintunya, dan dia sendiri yang masuk dengan leluasa.”
Harris menatap Alevia dengan sorot mata penuh rasa sakit akan kekhawatiran. “Kau tahu aku tak akan percaya itu. Kau bukan orang yang akan menyerang temanmu.”
Namun, sebelum ia sempat mendekat, cahaya merah gelap muncul di tangan Alevia. Dan dalam sekejap, serangan energi meluncur ke arah Harris.
Ledakan hebat membuat tanah bergetar hebat, menyebarkan retakan ke segala arah. Kai dan Reno menahan Nara yang hampir terhempas jatuh ke jurang gelap.
“Lev! Apa yang kau lakukan?!” teriak Harris.
“Aku tidak punya pilihan!” suara Alevia bergetar. “Kalau aku melawan perintahnya, dia akan menghabisi kalian semua!” teriaknya. Suaranya serak penuh arti, keterpaksaan yang sangat jelas
Theodore menatap Alevia dengan tatapan senang namun dingin. “Yang Rosetta katakan benar, kalian tidak seharusnya disini. Kalian justru mendekat pada maut itu sendiri.”
“Diam!” Alevia menoleh cepat, sorot matanya penuh amarah. “Aku tidak butuh kau menyuruhku atau mengomentari temanku!”
Namun di saat yang sama, kekuatan gelap dari tangan Theodore mengalir ke dalam gelang Alevia, memaksa tubuhnya bergerak. Ia menyerang lagi — kali ini lebih kuat. Serangan sihir yang meluncur lurus ke dada Harris.
Harris memblokirnya dengan perisai sihir, tapi daya hantamnya luar biasa. Ia terpental ke belakang, lututnya menghantam tanah yang berwarna perak itu.
Kai tak tahan lagi. Ia melompat maju, melepaskan ledakan api. “Hei! Lepaskan dia!” Theodore menangkis serangan itu dengan mudah, tapi ekspresinya berubah ketika Kai berseru lantang.
“Aku mencintainya! Dan aku tidak akan biarkan kau menghancurkannya!”
Alevia membeku. Serangannya berhenti di udara. Theodore menatap Kai dingin, lalu tersenyum tipis. “Cinta, ya? Selalu kata itu. Tapi asal kau tahu, cinta adalah alasan semua orang meninggalkannya dulu.”
Ia kemudian menatap Alevia, matanya melembut. “Kau ingat, bukan? Saat mereka menertawakanmu di dunia nyata. Saat kau menangis sendirian di ruang sepi itu. Aku yang mendengarmu, Rosetta. Aku yang tinggal bersamamu.”
Alevia menunduk. Wajahnya gemetar menahan air mata. “Diam,” gumamnya lirih. “Lev, jangan dengarkan dia!” seru Harris. “Dia hanya memutarbalikkan fakta!”
Namun terlambat. Theo mengulurkan tangan, menyentuh bahu Alevia lembut. “Aku tidak berbohong, Harris Ravendra. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya… dengan cara yang tidak bisa kau lakukan.”
Kata-kata itu membuat dunia di sekeliling bergetar. Cermin-cermin pecah, membentuk bayangan Alevia yang banyak, semuanya menatap ke arah Harris.
Lalu Alevia bergerak. Dengan wajah penuh air mata, ia menyerang Harris — kali ini tanpa bisa menahan diri lagi.
“Maafkan aku…”
“Lev, hentikan!”
BAB 16
Sampai Akhir Waktu
Mereka berdua bertarung di tengah pecahan kaca, sihir biru terang dan biru gelap saling bertumbukan, menggoncang Dunia Cermin seperti kilat yang tak henti.
Kai, Reno, dan Nara hanya bisa menahan bayangan-bayangan yang menyerang dari segala arah, sementara jauh dari mereka, Harris mencoba menembus pertahanan Alevia.
“Aku tahu kau masih disana!” teriak Harris di antara letupan sihir. “Kau bukan bonekanya! Kau Alevia Rosetta — gadis yang selalu melindungi orang lain, bahkan saat kau yang paling terluka!”
Alevia terdiam. Air mata perlahan jatuh dari pelupuk matanya, dan saat itu juga, gelang abu-abu di tangannya mulai retak. Tiba-tiba tanpa aba-aba, di dalam kepalanya terputar serpihan-serpihan kejadian yang tidak dia ingat sebelumnya.
Tentang Harris.
♣
Sebuah mansion besar berdiri di pinggiran kota. Taman bunga yang luas dan ada air mancur di tengah nya. Dua anak kecil berusia sembilan tahun yang tengah bermain kejar-kejaran.
“Hei! Kamu benar bisa mengejarku atau tidak sih?! Lari kok lambat banget!” ejek si gadis kecil dengan kucir dua. Tawanya merekah di wajah yang masih lucu itu. Anak lelaki yang berjongkok kelelahan di belakangnya hanya menatap dengan penuh sebal. “Kamu yang larinya seperti kilat!”
Semakin pecah tawa si kucir dua itu. Mengetahui bahwa sahabatnya itu tak bisa berlari secepat dia. Memang Alevia kecil terkenal sangat lincah dan lentur. Sihirnya juga sudah mulai terkontrol pada umur yang belum seharusnya.
Anak lelaki yang tadi berjongkok kelelahan itu kini terduduk di hamparan rumput taman depan mansion. Sungguh lelah dirinya. Tubuh mungilnya direbahkan perlahan sembari menikmati udara segar yang berhembus.
“Ah kamu ini, Ris. Lain kali tangkap aku ya kalau bisa! Jangan menyerah di tengah jalan!” ejek Alevia kecil pada Harris yang saat itu umurnya sudah menyentuh usia sepuluh tahun.
Gadis kecil itu turut serta merebahkan dirinya di bawah pepohonan rindang itu. Kupu-kupu berdatangan di sekitar mereka berdua, salah satunya hinggap di jari Alevia. Warnanya ungu kebiruan dan sedikit corak hitam yang unik.
Harris menatap itu. “Kupu-kupu itu mirip denganmu. Bebas, tapi sulit untuk digapai.”
♥
Roda kembali berputar. Kini menunjukkan sebuah taman bermain yang ada di alun-alun kota. Suasana malam bercampur gerimis yang mengguyur seluruh sisi kota. Alevia usia dua belas tahun sedang berdiri berhadapan dengan lelaki yang lebih tua beberapa bulan darinya. Keduanya berteduh di bawah satu payung yang sama.
Pandangan Harris menunduk ke bawah. “Maaf. Mungkin aku belum bisa menerima perasaanmu Alevia” Tolaknya. Gemuruh petir seakan tahu siapa yang sedang membutuhkan suaranya di langit malam.
Alevia mundur beberapa langkah. Air hujan mulai membasahi rambut dan juga pakaian yang ia kenakan. Bibirnya terangkat membuat sebuah senyuman manis di wajahnya. Tapi tidak dengan mata yang menatap sayu penuh harapan yang hilang. Hati bertanya kenapa bisa seperti itu, sedangkan otak membiarkan semuanya berlalu.
Alevia membalik badan dan berlari menjauh, meninggalkan sosok Harris sendirian dengan payungnya di tengah hujan. Suatu hal yang Harris sesali sejak beberapa menit yang lalu. Rasa sesak dan penyesalan menghampiri dirinya. Ia meremas baju nya yang sedikit basah terkena air hujan.
♠
Ah jadi begitu. Alevia mengerti sekarang. Kenapa dia selalu luluh dihadapan lelaki berambut hitam yang berdiri sempoyangan di depannya saat ini. Tangan dan kaki nya terluka parah, wajahnya penuh goresan dan hanya menyisakan sedikit energy sihir. Alevia bisa melihat itu. Pandangan nya tertuju pada teman-temannya yang lain, mereka sedang berusaha menghalau bayangan yang keluar dari retakan-retakan.
Ia menggenggam erat tangan kirinya−gelang putihnya berada. Theodore menyadarinya. “Berhenti, Rosetta! Jika kau melepaskan segel itu, dunia akan ini runtuh bersama kita!”
“Maka biarlah,” bisik Alevia lirih. “Lebih baik hancur daripada hidup dalam kebohonganmu.”
Netra dwiwarna itu mentap Harris dengan penuh arti. Mungkin setelah ini semuanya akan berubah. Pandangan itu beralih pada Kai yang terengah lelah, berjongkok melihat ke arah Alevia. Di sisi lain, Nara dan Reno yang saling memunggungi untuk melindungi masing-masing dari mereka.
Benar. Dia juga ingin melindungi teman-temannya. Pandangan nya kembali pada Harris yang ada tak jauh dari hadapannya. “Harris. Aku juga ingin menjadi teman yang baik. Yang bisa melindungi kalian semua.” Ungkapnya.
Harris menurunkan belatinya, tangannya masih menggengam erat belati itu dengan perasaan yang bercampur aduk. “Kalau begitu sudah cukup Alevia. Jangan lanjutkan lagi. Ayo kembali ke asrama bersama kami.”
“Tidak Harris. Aku tidak bisa ikut dengan kalian.” Perkataan itu membuat Harris mengangkat alisnya penuh tanda tanya. “Tapi aku akan membantu kalian keluar dari sini. Dan selamanya aku akan terus melindungi kalian, teman-temanku.”
Ia memejamkan mata, memecahkan segel sihir di pergelangan tangannya. Cahaya putih keemasan murni menyala, menelan seluruh dunia. Theodore berteriak, mencoba menahan sihir itu, tapi Alevia sudah terlanjur melakukan semuanya. Ia sudah terjun terlalu dalam untuk ini.
“Kamu pernah membuatku memiliki perasaan layaknya manusia biasa, Harris. Dan itu membuatku sangat senang. Ingat saat aku menyatakan perasaanku padamu dibawah rintik hujan? Aku merasa itu hal yang paling konyol dalam hidupku.”
“Lalu apa kamu juga ingat? Waktu itu kita dikira sepasang kekasih saat bermain bersama di wahana putar ombak. Aku merasa sangat senang walaupun itu hanya kesalahpahaman.”
“Masa dimana kamu pernah berusaha mengejarku dengan larian mu yang lambat itu. Tapi sekarang lihatlah, kamu bahkan lebih cepat dariku.”
Ledakan besar mengguncang Dunia Cermin. Kai, Reno, dan Nara menutup mata karena silau.
“Harris, aku−” ucapan nya terpotong. Harris yang tiba-tiba meraih tubuh Alevia yang lebih kecil ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku Alevia. Sungguh aku meminta maaf. Atas segalanya, entah bagaimana aku bisa mengganti semua kesalahan ku itu” bulir-bulir air mata mulai membasahi pipi pemuda dengan rambut hitam itu.
Alevia tersenyum dalam pelukan itu. Senyum terakhirnya. Tubuhnya yang perlahan menghilang ikut ditelan cahaya di sekitarnya. Dengan suara seraknya ia menyelesaikan perkataannya.
“Harris. Sampai kapanpun itu, kurasa kita memang ditakdirkan untuk selalu bertemu. Jangan khawatir, kapanpun kamu menoleh, aku masih disini. Masih memandangmu dengan cara yang sama seperti lima tahun yang lalu. Masih menyukaimu dengan cara yang sama.”
“Tapi seperti saat itu. Aku tetap melarikan diri dari jawabanmu. Mungkin kita tidak bisa bersama, Harris. Tapi aku dan sisa-sisa jiwaku nanti, akan terus bersamamu.”
Perlahan tapi pasti. “Aku juga mencintaimu, Alevia.”
Air mata jatuh membasahi pipi Alevia. Tangannya membalas pelukan Harris, walau hanya sebentar. Sebelum akhirnya dia benar-benar meninggalkan teman-temannya dan juga lelaki yang memeluknya itu.
Saat mereka membuka mata, hanya tersisa Harris — berlutut di antara reruntuhan, menatap sisa cahaya yang berputar di udara. Dari sisa sinar itu, muncul seekor kunang-kunang kuning, berpendar lembut dan melayang di hadapan Harris.
“Lev…” bisiknya, suaranya pecah. “Andaikan kamu tahu. Perasaan ini juga tidak pernah hilang sejak pertama kita bertemu. Sejauh itu aku.”
Kunang-kunang itu berputar pelan di sekitar Harris, lalu terbang tinggi menuju langit cermin yang mulai runtuh — sebelum menghilang menjadi serpihan cahaya.
Dalam sekejap, mereka berteleportasi otomatis ke taman bagian belakang asrama. Penuh dengan rasa hampa dan sedih yang tidak bisa diutarakan.
BAB 17
Tiada Akhir
Sudah seminggu berlalu sejak Dunia Cermin runtuh dan hilang dari peradaban. Namun di dunia nyata, bayangannya masih terasa di setiap sudut Aurea High Academy. Bangunan aula yang kemarin hancur kini telah diperbaiki, tapi setiap kali cahaya senja memantul di jendelanya, orang-orang masih melihat sekilas siluet seorang gadis bergaun putih berdiri di taman belakang asrama mereka.
Alevia Rosetta. Nama yang kini hanya tersisa di kenangan, tapi tak pernah benar-benar pergi dari benak siapapun.
Harris duduk sendirian di balkon asrama, tempat yang Alevia selalu datangi di tengah keheningan malam. Memandang ke arah yang sama, taman belakang asrama. Angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga musim baru.
Di tangannya, ia menggenggam pecahan gelang putih — satu-satunya peninggalan yang tersisa dari Alevia. Hal terakhir yang dapat ia lindungi setelah kepergian Alevia saat itu.
Kai muncul dari belakang, membawa dua kaleng minuman dingin. Ia duduk di samping Harris tanpa banyak bicara.
Mata keduanya menatap langit oranye yang perlahan berubah ungu.
“Kau masih datang ke sini tiap sore?” tanya Kai akhirnya.
Harris tersenyum tipis. “Dia suka tempat ini. Katanya, dari sini dunia terlihat damai dan indah.” Kai menunduk. “Lev memang selalu aneh dalam hal-hal indah.”
Hening sejenak. Suara burung kecil terdengar jauh, dan cahaya matahari terakhir memantul lembut di pecahan gelang di tangan Harris.
“Kau tahu, Harris,” ucap Kai perlahan. “Dia tidak pernah benar-benar pergi. Aku rasa, selama kita masih mengingatnya, dia masih disini. Di setiap cahaya, di setiap bayangan.”
Harris menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Kau benar, Kai. Aku bisa merasakannya… setiap kali aku menutup mata.”
♦
Di tempat lain, Reno sedang menulis catatan di ruang arsip perpustakaan akademi. Ia mengumpulkan seluruh peristiwa yang terjadi ke dalam buku tebal bertuliskan "Catatan Dunia Cermin".
Setiap halaman dipenuhi mantra, ingatan, dan potongan kisah tentang Alevia — agar sejarah tidak melupakannya.
Nara datang membawa setangkai bunga putih. Ia meletakkannya di atas meja Reno, tepat di samping buku itu. “Untuk Alevia,” katanya pelan. Reno mengangguk. “Untuk gadis yang menembus cermin… dan membuat kita belajar apa artinya pertemanan. Dan cinta”
Nara tersenyum tipis. Tangannya menyentuh bunga itu, seakan memang sedang menggenggam tangan sahabat nya. Reno meletakkan tangannya diatas tangan Nara. Mata keduanya saling bertatapan, senyum mulai merekah.
Malam itu, di taman belakang asrama, Harris berjalan melewati kolam yang memantulkan cahaya bulan. Airnya tenang, tapi di permukaannya ada sesuatu — cahaya kecil berwarna kuning, berkelip lembut. Seekor kunang-kunang melayang turun, berputar di depannya.
Harris menatapnya lama. “Lev…?”
Kunang-kunang itu berpendar lebih terang, lalu terbang mengitari bahunya. Suara lembut bergema di benaknya — bukan suara keras, tapi seolah berasal dari hati seseorang.
“Harris… kalau suatu hari kamu merindukanku, bayangkan saja aku masih di sini. Bayangkan aku tertawa, berjalan di sampingmu, menatap langit seperti dulu. Karena aku tak pernah benar-benar pergi. Aku hanya berubah jadi cahaya — agar aku bisa menyinari langkahmu.” Air mata mengalir di wajah Harris, tapi ia tersenyum.
“Aku tahu, Lev. Aku tahu.” Kunang-kunang itu menari sebentar di udara, sebelum perlahan memudar, meninggalkan jejak cahaya tipis yang membentuk tulisan samar di udara
Bayangkan aku tetap ada.
♣
Keesokan harinya, Kai, Reno, dan Nara menemukan Harris duduk di taman dengan wajah tenang. Ia tampak lebih damai dari sebelumnya. Di tangannya, pecahan gelang putih itu kini sedikit bersinar lembut — tidak menyala terang, tapi hangat, seperti cahaya kehidupan.
“Dia datang semalam,” ucap Harris pelan. Nara menatapnya lembut. “Alevia?”
“Ya. Dia… bilang kalau dia akan tetap ada. Bersamaku, bersama kita.”
Kai menatap langit pagi yang bersih. “Kalau begitu, mari kita terus berjalan. Untuknya.”
Hingga bulan berganti musim. Waktu berjalan, luka mulai sembuh, tapi kisah mereka tetap menjadi bagian dari dunia itu.
Kadang, ketika malam datang dan kunang-kunang kuning beterbangan di sekitar akademi, semua orang yang mengenal Alevia tahu satu hal.
Bahwa cahaya itu bukan sekadar serangga malam. Itu adalah Alevia Rosetta, gadis yang melindungi dunia bahkan setelah ia tiada.
EPILOG
Di Ujung Jalan
Suara hujan turun di atas daun, menyentuh bumi dengan lembut.
Di antara rintiknya, cahaya putih kecil bergerak perlahan, berkelip-kelip di udara — seekor kunang-kunang, tapi bukan sembarang kunang-kunang.
“Sudah lama ya, dunia…”
Suara lembut itu mengalun di antara angin — suara Alevia, kini bukan dari tubuh, tapi dari bayangan cahaya. Langkahnya menyusuri setiap jendela yang ada disana. Ia berjalan melewati taman, ruang kelas, dan koridor sekolah yang dulu ia lalui bersama teman-temannya.
Setiap tempat menyimpan cerita, tawa Harris, amarah Kai, renungan Reno, dan doa Nara. “Kalian tidak tahu betapa aku sangat menyukai hari-hari itu. Bahkan saat gelap menelanku, aku masih berharap bisa melihat langit di atas Akademi sekali lagi.”
Bayangan cahaya itu berhenti di jendela kelas lama mereka. Di dalam, Harris sedang tertidur di meja, buku catatan terbuka di hadapannya. Di halaman terakhir, tertulis dengan tulisan tangannya sendiri
Alevia Rosetta — cahaya yang tak akan pernah padam.
Ia menatap pantulannya di jendela. Kali ini, tidak ada bayangan jahat, tidak ada dunia cermin. Hanya dirinya sendiri, dan dunia yang ia lindungi dengan cinta.
“Kalau suatu hari kalian lupa wajahku, tak apa. Cukup bayangkan cahaya kecil di malam hari… karena di sanalah aku berada.”
Cahaya itu memudar perlahan, menyatu dengan sinar bulan di atas langit akademi. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit Aurea High Academy benar-benar bersih — tanpa bayangan, tanpa retakan, hanya kedamaian. Beserta suara tetesan air hujan yang membasahi bumi.
♥
Di perpustakaan tampak ramai malam itu. Bayangan cahaya Alevia berhenti di depan pintu sebuah ruangan, ruang pengurus arsip. Reno ada disana masih sibuk dengan untaian kertas yang berserakan di bawah meja. Mata sendu Alevia menangkap sebuah vas bunga yang berisi mawar putih di dalamnya.
Tak lama, suara pintu terbuka menembus ke telinga. Nara datang menghampiri Reno dengan membawa beberapa makanan ringan dan juga minuman. Seperti biasanya, dia tetap cerewet dan selalu marah-marah pada Reno. Tapi keduanya jelas sekarang. Terbukti dengan dua buah cincin yang menggantung di jari manis tangan kiri mereka.
Itu artinya sudah lama sejak kepergiannya.
Ketika menyusuri lorong, telinga nya menangkap sebuah suara nyanyian seseorang yang bersautan dengan petikan gitar. Alevia terus menyusuri lorong itu mencari sumber suara.
Langkahnya semakin cepat, setiap ruangan sudah di periksa oleh bayangan cahaya Alevia itu. Ia mencari sumber suara yang sangat familiar di telinganya.
Kai. Suara itu sangat jelas di telinga Alevia. Orang yang ingin dia temui sejak terakhir kali. Instingnya mengarah pada gedung akademi lantai dua. Ia pun perlahan menaiki satu persatu anak tangga.
Langkahnya terhenti di sebuah pintu ruangan yang tidak ada sebelumnya. Disana tertulis bahwa ini adalah ruang musik. Tapi sejak kapan akademi menyorot hal ini?
Tanpa pikir panjang, Alevia menembus ke dalam pintu itu.
Dan disinilah dia sekarang. Berdiri memandangi sosok Kai yang duduk sembari memetik gitarnya. Lantunan lagu yang keluar dari bibirnya terasa menenangkan.
Langkahnya tergerak memutari tempat Kai duduk. Kai terus melanjutkan melodi itu sampai lagu yang dinyanyikannya selesai. Mata birunya kini semakin indah dimata Alevia. Perlahan tangannya tergerak memeluk leher si pemuda itu dari belakang.
“Sampai bertemu di ketidaksengajaan lainnya, Kai. Maaf karena aku belum menjawab perasaanmu”
***