man 3 bantul MAN 3 BANTUL

Novel "BAYANGKAN" (part 1)

BAYANGKAN
(bagian pertama)
Karya: Alyna Yukha Rizqananda

 

PROLOG
Cermin Yang Tak Memantulkan Bayangan

Tidak semua cermin memantulkan kenyataan. Beberapa hanya menampilkan apa yang ingin kita lihat. Dan sebagian lainnya… menyimpan sesuatu yang berusaha kita lupakan. Di sebuah ruang putih yang tanpa pintu dan jendela, seorang gadis kecil berdiri di depan cermin besar. Rambutnya tergerai panjang se bahu, matanya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Tapi bayangan di dalam cermin tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu tersenyum aneh padanya.

“Siapa kamu?” bisik gadis kecil itu lirih.

Bayangan di dalam kaca menjawab dengan suara yang sama, tapi lebih dalam, lebih tua. “Aku adalah kamu… yang tidak pernah diizinkan menangis.”

Cahaya putih di sekelilingnya mulai meredup, retakan muncul di permukaan cermin, lalu dari baliknya muncul kilatan hitam — seolah malam menelan siang. “Akan tiba waktunya,” ujar suara itu, “ketika kamu tak lagi tahu siapa yang asli dan siapa yang hanya bayangan.”

Dan dari kegelapan itu, sepasang mata biru dingin menatap balik dari sisi lain cermin. Mata milik seorang pria dengan senyum samar yang mengandung rahasia berabad lamanya. “Dunia akan memanggilmu pahlawan, tapi aku akan memanggilmu kunci keajaiban dunia.”

Saat itu, cermin pecah — dan serpihannya bagai cahaya beterbangan, menembus hawa dingin. Satu pecahan kecil jatuh ke dunia manusia, berkilau dalam bentuk gelang putih mungil di tangan seorang bayi perempuan.

Dan dari dalam sebuah cermin, seseorang tertawa pelan. “Akhirnya, dunia manusia akan segea hancur di tangan kegelapan.”

Sudah tujuh belas tahun berlalu sejak insiden itu terjadi. Dimana gerbang antara dunia manusia dan dunia lain terbuka lebar, kekacauan di seluruh alam. Pintu itu telah di segel sepuluh tahun yang lalu, dan tidak ada yang tahu dimana keberadaan pintu itu di zaman sekarang. 

“Kalau pintu itu benar ada, apa yang terjadi jika itu terbuka lagi, Ibu?” Tanya seorang gadis kecil dengan rambut pendek berwarna kecoklatan, mata hijau zamrud nya menatap penuh tanda tanya pada sang ibu.

“Hahaha.. Pintu itu tidak ada sayang, ini semua hanyalah cerita tidak nyata. Jika ada pun, sihir yang kita miliki pasti bisa melawan makhluk jahat itu.” Tanggap si ibu.

Alevia Rosetta. Gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu kini tengah bersiap untuk berangkat ke akademi barunya sambil meneteng sebuah buku. Terkadang sang ibu juga geleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang tak bisa lepas dari buku cerita aneh itu.

Meski begitu, ia tetap menyayangi Alevia. Mengingat saat itu ayahnya meninggalkan dia ketika masih bayi, menitipkan sosok kecil itu kepadanya. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, kembali fokus menata kotak bekal milik anak gadisnya.

“Apa kamu yakin baik-baik saja berangkat sendirian?” 

Seketika kegiatan Alevia terhenti. Lontaran pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut ibunya itu masih belum bisa ia jawab. Pasalnya perpindahan akademi yang tiba-tiba ini juga bukan keinginan Alevia. 
“Aku baik-baik saja, bu. Jangan khawatirkan aku, lagipula orang disana pasti baik dan juga ramah.” Jawabnya singkat.

Meski tampak meyakinkan, tapi dalam lubuk hatinya belum sepenuhnya yakin. Akademi itu adalah akademi sihir yang paling terkenal selama beberapa abad ini. Banyak para penyihir hebat yang ternyata adalah lulusan dari akademi itu.

Dirinya kemudian berpamitan dan melangkah keluar dari rumah bertingkat itu. Jari-jarinya mengetuk bagian belakang kedua sepatunya. Aliran cahaya mengalir di sepatu itu, hingga ujung membentuk seperti sayap kecil.

Sebenarnya hal ini termasuk illegal, karena untuk bisa terbang menggunakan sepatu itu harus melewati terminal. Tapi lupakan saja, keadaan nya terlalu mendesak untuk mencari terminal sekarang.

Tubuh Alevia perlahan melayang di udara, Tubuhnya bergerak ke depan untuk mengendalikan arah terbangnya. Udara sejuk di pagi hari menerpa wajahnya yang masih mengantuk itu. 

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dibalik kabut tebal, mulai terlihat siluet sebuah komplek gedung yang sangat luas dan menjulang tinggi diatas awan. Aurea High Academy. 

Pemandangan terlihat indah jika dilihat dari atas sana. Perlahan Alevia mendarat di sebuah terminal dekat gerbang utama Aurea High Academy. Langkahnya diikuti dengan kabut pagi hari yang setia menutupi jalanan. 

Tibalah dia disini. Tempat dimana hal yang tidak dia duga selama ini akan terjadi. Ia menelan ludahnya kasar. “Huft… ayo masuk Alevia.” Gumam nya pada diri sendiri.


BAB 1
Bayangan Pertama

Udara pagi itu terasa segar disertai kabut tipis sihir. Langit berwarna ungu bercampur merah muda—warna khas dunia Aurealis, dunia di mana teknologi dan sihir berjalan berdampingan seperti dua sisi di satu koin yang sama.

Di depan gerbang besar bertuliskan Aurea High Academy atau biasa disebut AHA, seorang gadis bernama Alevia Rosetta berdiri sambil menarik napas panjang. Sekolah itu tampak seperti perpaduan antara kastil Eropa dan kampus modern. Menara yang menjulang tinggi diatas awan, jendela kaca melengkung, hologram mengambang di udara, serta ratusan siswa berseragam biru keperakan yang berlalu-lalang dengan riang.

“Hari pertama, Lev… jangan membuat masalah,” gumamnya pada diri sendiri sambil merapikan pita seragamnya yang sedikit miring.

Ia adalah murid pindahan dari kota kecil bernama Velmora, dirinya dipindah ke Aurea High Academy karena nilai sihir dan akademiknya terlalu tinggi untuk sekolah biasa. Namun, di balik prestasinya itu, Alevia menyimpan rahasia aneh. Dimana ia bisa melihat bayangan seseorang  yang tak dia kenal melalui pantulan yang ada di cermin maupun tempat apapun yang memantulkan bayangan dirinya.

Belum sempat Alevia melangkah masuk ke halaman, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah lapangan.

“HEY! HATI-HATI!”

Sebuah bola sihir berwarna oranye meluncur cepat ke arahnya. Refleks, Alevia mengangkat tangan. Dalam sekejap, bola itu berhenti di udara, berputar perlahan, lalu meledak menjadi ribuan bunga cahaya. Suasana lenggang sejenak, semua yang melihat kejadian itu seakan membeku di tempatnya. Tak lama mulai riuh suara bisik membisik dan saling bersorak.

“Gila! Dia pakai mantra tanpa rapalan!”
“Anak baru itu siapa?”
“Aku belum pernah melihat hal seperti itu..”
“Gawat! Ini sih harus segera di liput!”

Dari kerumunan yang teramat heboh itu, seorang pemuda berambut hitam pekat dengan mata kuning keemasan melangkah maju. Dialah Harris Ravendra—ketua Klub Pertahanan Sihir dan murid paling populer di Aurea High Academy. Badannya menjulang tinggi, berwibawa, dan wajahnya tampak sedikit menyebalkan, setidaknya menurut sebagian besar murid perempuan yang pernah mencoba mendekatinya.

Tangannya menyilang di depan dada, “Hei, itu bola latihan punyaku tahu!” katanya dengan nada tenang tapi tajam.
“Bisa-bisanya kamu hentikan begitu saja tanpa izin.” Raut wajahnya berubah kesal.
“Aku cuma refleks,” jawab Alevia ringan. “Kalau aku biarkan, mungkin aku akan kehilangan kepalaku tadi.”

Alevia melewati Harris yang masih berdiri di tempatnya. Beberapa siswa terkekeh. Wajah Harris tetap datar, tetapi sudut bibirnya bergerak samar—sebuah senyum kecil yang sulit ditebak.

Tak lama kemudian, Alevia dipanggil ke ruang guru untuk bertemu dengan wali kelas baru nya. Miss Lora, seorang perempuan paruh baya berambut hijau kebiruan dengan jubah biru muda dan tatapan yang lembut tapi tajam.

“Alevia Rosetta, benar?” tanya nya lembut. Suaranya hampir seperti angin yang menyejukkan paru-paru. “Benar.” Angguk Alevia. “Mari ikuti saya, teman-teman barumu sudah menunggu di kelas.” Ungkapnya dengan senyum tipis.

Kedua langkah kaki itu beriringan berjalan menuju ke ruang kelas yang berada di ujung lorong. Ada satu ruangan yang menyala dengan sangat terang meskipun lorong yang mereka lewati sekarang terkesan gelap karena minimnya pencahayaan.

Pintu itu terbuka otomatis, seisi kelas yang tadinya ribut langsung berubah menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Miss Lora dan seorang gadis seumuran mereka yang ada di belakang wali kelasnya itu.

Keduanya kini berdiri di depan semua penghuni kelas, “Baik, perkenalkan teman baru kita, namanya Alevia Rosetta. Tolong bantu ia menyesuaikan diri disini” ujar Miss Lora dengan nada ramah. “Dan jangan seperti Harris yang pertama kali datang langsung meledakkan seisi ruang latihan.”

Ah… bertemu lagi. Lelaki berambut hitam pekat itu, yang tadi pagi menghalangi jalannya.

“Itu kecelakaan ilmiah, Miss!” sangkal Harris, membuat seluruh kelas tertawa. Miss Lora hanya menggelengkan kepalanya melihat anak didiknya yang super menjengkelkan itu.

“Baik Alevia silahkan duduk dimanapun kamu suka, masih banyak tempat kosong disini”

Alevia mengangguk, langkahnya berjalan perlahan menyusuri tempat duduk yang kosong. Melewati tempat duduk yang kosong di sebelah Harris. Akhirnya ia duduk di sebelah seorang gadis berambut pink gelap bernama Nara—gadis ceria dan cerewet yang langsung mengajaknya berbicara.

“Hai! Namaku Nara, salam kenal Alevia” sapanya terlebih dahulu.
“O-oh.. hai Nara, senang berkenalan denganmu” tanggapnya.
Senyum ramah terukir di wajah si gadis bersurai pink itu, Alevia bisa menebak bahwa teman sebelahnya ini sepertinya hobi berbicara. 

Semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing, Miss Lora mulai menyampaikan mata pelajaran pertama hari ini tentang rapalan mantra teleportasi. 
Waktu berlalu seakan lebih lambat dari biasanya, bangku bagian belakang sudah rata tertidur lelap dan terjun ke dalam mimpi tak berujung. 

Nara menyenggol bahu Alevia, gadis itu mencoba mengajak temannya berbicara untuk menghilangkan rasa kantuk nya yang sudah mulai menyerang. 

“Hei, mau kuberitahu satu misteri? Katanya di lantai empat akademi ini ada ruang rahasia yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun tahu” bisiknya pelan. 
“Ruang rahasia?”
“Iya! Banyak yang bilang kalau masuk kesana, nggak bisa balik lagi ke dunia ini. Serem banget, kan?” ucapnya bergidik ngeri. 
“Kukira itu mitos, bukannya sihir itu sudah di segel puluhan tahun dahulu?” tanya Alevia keheranan. 
Nara menaikkan bahu nya tanya tak tahu, “Entahlah, mungkin kamu bisa tanya ke Harris, dia Ketua klub Pertahanan Sihir disini” saran Nara. 

Alevia memutar bola matanya, mana mau dia berurusan lagi dengan lelaki yang hampir mencelakai nya pagi tadi. 

Alevia hanya tertawa kecil untuk menanggapi, tetapi di balik tawanya, matanya tak sengaja menangkap pantulan jendela di depannya. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri sedang tersenyum tapi dengan ekspresi yang berbeda. Senyum itu dingin, nyaris tidak manusiawi. Ia menggelengkan kepalanya, lalu dalam sekejap bayangan itu kembali menjadi dirinya. 


BAB 2
Bayangan Senja

Waktu berjalan hingga jam makan siang tiba. Kantin AHA tampak megah seperti food court futuristik, banyak meja-meja melayang, pelayan robot, dan menu hologram dengan daftar makanan yang tak kalah ajaib.

Alevia duduk bersama Nara, menikmati semangkuk sup hangat. Tak lama kemudian, dua siswa laki-laki menghampiri mereka. Reno Dashiell dan Kai Everest, sahabat Harris yang terkenal usil namun kesetiakawanan nya tidak diragukan lagi. Dua pemuda itu juga tergabung dalam satu klub yang sama dengan Harris.

“Hei, kamu si penyelamat bola sihir, ya?” sapa Reno dengan senyum lebar.
“Kamu bikin Harris malu di depan banyak orang tahu.” tambah Kai sambil terkekeh.

“Aku tidak bermaksud membuat siapa pun malu,” jawab Alevia.
“Tenang aja,” Reno menepuk pundaknya. 
“Kami justru kagum. Harris sangat jarang diperlakukan seperti itu, apalagi sama cewek.” Kai yang di sebelahnya mengangguk setuju. 
“Harris itu kebanyakan fans, makanya nggak ada satu pun cewek yang berani nantang dia. Takut di serbu.” jelas Kai.

Percakapan mereka berlangsung santai dan hangat. Kedua lelaki itu ikut duduk di sebelah kedua gadis itu. Mereka memesan makanan dan minuman juga. Hingga tiba-tiba suara dengung keras terdengar dari arah dapur. Lampu kantin padam. Seluruh ruangan mendadak gelap.

“Apa-apaan itu?” gumam Nara yang masih santai menyantap makanan nya. 
“Sistem energi masih aktif, kurasa ini bukan pemadaman” ujar Reno bangkit dari tempat duduknya. 

Dalam kegelapan itu, Alevia menatap pantulan sendok logam di tangannya. Seketika jantungnya berhenti berdetak sejenak, karena dari pantulan itu, ia melihat ratusan bayangan hitam berdiri di belakang para murid. Tak bersuara. Tak bergerak. Tanpa wajah.

Namun secepat mereka muncul, bayangan-bayangan itu menghilang. Lampu kembali menyala seperti sedia kala, seluruh murid yang ada disana saling bertatapan, keadaan mulai ricuh. 

“Baik anak-anak! semuanya harap tenang dan kembali nikmati makanan kalian, tadi itu hanya kesalahan teknis!” teriak bibi penjaga kantin dari ujung pintu dapur. 

Reno kembali duduk ke tempat nya, Nara menyenggol Reno yang duduk di sebelahnya, “Kamu waspada sekali Ren, padahal ini udah sering terjadi” ucapnya. 

“Justru karena sering terjadi aku waspada! kamu yang aneh karena masih santai dengan makananmu itu” sangkal nya. Wajar saja Reno seperti itu, dia juga bagian dari Klub Pertahanan Sihir. 

Menjelang sore, setelah kelas berakhir, Alevia kembali ke asrama—dia diantar oleh Nara. Kamar barunya sederhana, satu meja belajar di dekat jendela, lemari kecil, dan satu cermin besar di samping tempat tidur. Dari jendela, ia bisa melihat menara utama AHA menjulang di kejauhan, berkilau di bawah cahaya senja.

Sekilas matanya menangkap bayangan hitam yang berdiri di belakang nya saat ini. Refleks dirinya menoleh ke belakang untuk mengecek. Dan tidak ada siapa siapa di ruangan itu kecuali dirinya sendiri. 

“Mungkin cuma halusinasi,” bisiknya, mencoba menenangkan diri.

Namun, saat ia menatap ke cermin, darahnya terasa berhenti mengalir. Bayangan di sana tidak menirukan gerakannya. Bayangan itu seakan menatapnya tanpa tergoyah sedikitpun. 

Ketika Alevia menunduk, bayangannya tetap menatap lurus. Ketika Alevia mundur, bayangan itu malah tersenyum.

“Alevia Rosetta…” suara lirih keluar dari pantulan cermin.
“Bayangkan… kamu bukan satu-satunya…. yang hidup di sini.” suara itu lirih namun cukup untuk membuat satu ruangan terasa sangat mencekam. 

Alevia terpaku. Cermin itu mulai bergetar pelan lalu retak, pecah menjadi serpihan cahaya ungu yang bertebaran di udara. 

Dirinya terduduk ke lantai, apakah ‘hal itu’ masih mengikuti nya hingga kemari? bahkan setelah sekian lama dia mengabaikan nya? 

Di luar kamar, kebetulan Harris sedang lewat. Ia mendengar suara seseorang menangis dan seperti ada suara sesuatu yang pecah, lalu dengan segera ia membuka pintu.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Cerminnya… pecah sendiri..” jawab Alevia, matanya masih terpaku pada lantai yang dipenuhi pecahan kaca.

Harris berlutut, memperhatikan serpihan-serpihan itu yang memancarkan cahaya samar. “Pecah sendiri?” gumamnya pelan. “Atau mungkin… sesuatu sedang mencoba keluar.”
“Mencoba… keluar..?” ulang Alevia dengan nada lirih. 

Karena menurutnya tidak begitu. Bayangan itu yang mencoba untuk membawa dirinya masuk ke dalam cermin selama ini. Sunyi sesaat. Udara di ruangan mendadak berubah lagi menjadi dingin.

Di antara serpihan kaca, muncul sosok bayangan menyerupai manusia, dengan mata merah menyala dan suara napas berat.

Alevia menatap Harris, suaranya bergetar namun tegas. “Apa pun itu… sepertinya ia datang untukku.”

Harris menegakkan tubuhnya, cahaya biru menyala di telapak tangannya, siap bertarung.

“Selamat datang di Aurea High Academy, Alevia Rosetta,” katanya dengan senyum tipis. Suaranya menggema di seisi kamar itu. “Jangan berpikir kamu bisa lepas dariku, jangan menolakku Rosetta.”

Alevia seketika bangkit dan melangkah mundur di belakang Harris dengan wajah ketakutan. Tangannya tergerak meraih lengan Harris yang masih bersiap bertarung. 

Kemudian bisikan pelan terasa di telinga nya, “Aku kan juga bagian dari dirimu.. “


BAB 3
Demi Sebuah Cahaya

Pagi berikutnya, sinar matahari menembus kaca jendela kamar asrama dan membangunkan Alevia dari tidur gelisahnya. Semalaman dirinya dan Harris membersihkan serpihan kaca yang tersebar di lantai—hanya menyisakan debu cahaya ungu samar. Seolah kejadian itu tak pernah ada. Namun, rasa dingin dari malam sebelumnya masih melekat di udara.

“Apa aku bermimpi?” bisiknya pelan. “Tapi kedatangan Harris terasa begitu nyata.”

Ia memeriksa seluruh kamar, tapi tak ada tanda-tanda bayangan aneh itu. Mungkin memang hanya halusinasi. Meski begitu, hatinya menolak percaya sepenuhnya. Dirinya membuang jauh jauh pemikiran itu. Segera ia menyahut handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia bersiap berdandan tipis dan mengenakan seragam seperti biasanya. 

Ketika Alevia melangkah keluar kamar, suara riuh dari lorong asrama membuatnya tersadar dari lamunan nya sejak tadi. Puluhan siswa sedang berlarian, sebagian menjerit, sebagian tertawa. Di tengah kekacauan itu, muncul Nara yang berlari tergopoh-gopoh sambil membawa dua roti di tangannya.

“Lev! Kamu nggak bakal percaya!” serunya.
“Apa lagi kali ini?” sahut Alevia dengan nada lelah nya. 
“Harris! Dia dia katanya sedang mencarimu!”
Alevia langsung berhenti di tempat. “Cari aku? Untuk apa?”
“Entahlah, tapi semua anak di kantin bilang ia kelihatan serius banget. Biasanya dia cuma santai atau nyebelin.”

Belum sempat Alevia menanggapi, suara berat khas bangun tidur terdengar dari ujung koridor. “Alevia Rosetta.” Suara yang sangat familiar di telinga nya beberapa hari ini. 

Suara itu khas—dalam dan berwibawa. Harris berdiri di sana, bersandar di dinding dengan seragam rapi, rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa cahaya pagi.

“Kamu punya waktu lima menit?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Tergantung. Untuk apa?”
“Untuk bergabung denganku di ruang pelatihan.”

Nara menahan tawa. “Itu kedengarannya seperti ajakan kencan, tahu nggak?”

Harris menatapnya datar. “Ini bukan janji makan siang.” Seketika Nara terdiam, teman satu kelas nya yang terkenal usil itu tidak pernah seserius ini sebelumnya. 

“Apa ada masalah kali ini?” Tanya Nara serius. Habisnya, Alevia itu masih anak baru, apalagi dia juga teman nya yang baru saja dekat. Kekhawatiran tak bisa di hilangkan dari benaknya. 

“Ini bukan urusanmu, kamu tidak perlu ikut campur.” Jawab Harris ketus. 
“Baik-baik, sudah cukup. Nara, kamu duluan saja ke Akademi, nanti aku menyusul setelah urusan ini selesai.” Ucap Alevia menenangkan. 

Nara hendak menolak, tapi apa boleh buat. Dia juga tidak mau berdebat dengan Harris yang masih menatap tajam ke arahnya. 

Beberapa menit kemudian, mereka berdua berjalan ke Ruang Pelatihan Klub Pertahanan Sihir yang berada di samping asrama. Ruangan itu luas seperti hanggar, penuh dengan alat latihan, rune bercahaya di lantai, dan senjata sihir yang tergantung di dinding.

“Kamu ingat apa yang terjadi semalam?” tanya Harris sambil memeriksa perangkat latihan.
“Kalau maksudmu cermin yang pecah, ya. Tapi pagi ini semuanya sudah baik-baik saja.”
“Itu bukan hal biasa. Aku memeriksa sistem energi sekolah, dan ada gangguan sihir gelap di sekitar asrama. Itu sama seperti serangan sepuluh tahun lalu.”

“Serangan?” ulang Alevia pelan.
“Ya. Bayangan yang keluar dari dimensi lain. Mereka meniru manusia dan menyerap energi cahaya. Biasanya, mereka memilih orang dengan aura kuat sebagai pintu masuk ke dunia ini.”

Alevia menatapnya dalam diam, cerita ini mirip sekali dengan yang dibuku yang ia baca. “Lalu? Apa maksudmu mengajakku kesini? Kamu pikir aku orangnya?”
“Aku tidak berpikir,” jawab Harris tenang, “aku tahu.”

Sebelum Alevia sempat bereaksi, terdengar suara langkah-langkah cepat. Reno dan Kai masuk dengan wajah tegang. “Harris! Ada laporan baru! Bayangan muncul di ruang makan guru!”
“Serius?!”
“Ya! Dan kali ini mereka mulai menyerang”

Harris berdecak kesal. Belum juga hari ini dimulai, sudah ada kekacauan baru lagi. 

Harris langsung mengambil belatinya yang ada di dalam kotak khusus. Ia menatap Alevia.

“Kamu ikut. Anggap ini ujian masuk klub.”
“Apa aku punya pilihan?” Tanya Alevia. 
“Tidak sama sekali.” Sial. Benar-benar hari yang sial bagi Alevia hari ini. 

Mereka berempat berlari menuju ruang makan guru di lantai dua akademi. Lorong tampak sepi, hanya suara langkah kaki dan dengung energi sihir di udara. Begitu pintu didorong, hawa dingin menyelimuti ruangan.

Di dalam, semua kursi terbalik. Meja retak. Dan di dinding belakang, bayangan manusia menempel seperti lukisan hidup.

“Itu… dia bergerak!” teriak Nara yang sedari tadi sudah berusaha melindungi guru yang ada di ruang makan itu. Nafasnya tersengal lelah. 

Bayangan itu perlahan menoleh ke arah mereka, matanya merah menyala.

“Harris Ravendra… putra penjaga gerbang dunia manusia,” suara itu bergema seperti bisikan di kepala mereka.
“Dan kamu…” ia menunjuk ke arah Alevia, “…penyelamat.” Seketika hawa ruangan membeku.

“Kalian tahu siapa kami?” tanya Bayangan itu.  “Kami adalah bayangan yang kalian bayangkan sendiri,” jawab sosok itu, suaranya menggema. “Semakin kalian takut, semakin kami nyata.”
“HAHAHAHAHAHAHA!” tawa para bayangan itu menggema di satu ruangan.

BAB 4
Awal Keabadian

Tanpa aba-aba, bayangan itu melompat keluar dari dinding dan berubah menjadi sosok kabut hitam dengan cakar panjang. Harris menggerakkan tangannya cepat, menciptakan perisai energi berwarna biru muda. Benturan keras terdengar, seperti logam dipukul palu.

Alevia melangkah mundur, tapi seketika matanya menangkap pantulan yang ada pada sendok perak di lantai. Dalam pantulan itu, ia melihat titik cahaya di dada bayangan itu—sebuah inti. “Harris! Titik lemahnya di dada!” teriaknya.

Harris menoleh cepat, lalu mengubah sihirnya menjadi busur cahaya. Ia menembakkan panah biru ke arah bayangan itu tepat di titik yang disebutkan Alevia. Panah menembus, dan bayangan itu menjerit sebelum berubah menjadi abu ungu yang menghilang di udara.

Setelah semuanya usai, keheningan menyelimuti ruangan. Reno jatuh terduduk di lantai sambil tertawa gugup. “Itu… gila. Aku hampir kehilangan napas.”

Kai menepuk bahunya. “Kau kehilangan napas bahkan saat disuruh lari keliling sekolah, Ren.”

Harris mengabaikan mereka, lalu berjalan mendekati Alevia. “Kamu cepat tanggap. Tanpa kemampuan melihat pantulan itu, kita mungkin sudah kalah.”

“Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa melihatnya,” jawab Alevia pelan. “Kadang itu muncul begitu saja.”

Harris menatapnya cukup lama, lalu menunduk sedikit. Untuk pertama kalinya, ekspresinya melunak.

“Mulai hari ini, kamu resmi bagian dari Klub Pertahanan Sihir.”
“Dan kalau aku menolak?”
“Kamu tidak bisa. Aku sudah daftarkan namamu.”

Alevia melongo. “Kamu ini… ah kadang serius kadang menyebalkan sekali”
“Selamat datang di kekacauan ini” sambut Harris dengan senyum menyebalkan nya. 


Sementara mereka berjalan keluar ruangan, Nara menyusul dari belakang dengan napas tersengal. “Tunggu! Berarti mulai sekarang, kalian berdua bakal sering kerja bareng?”
“Kelihatannya begitu,” jawab Alevia setengah pasrah.

“Wah, ini sih bakal jadi berita paling gong bulan ini! Ketua Klub yang tertarik dengan murid baru hihihi” goda Nara dengan mata berbinar. Harris menatap Nara datar.

“Kamu ini ya, Kami baru saja melawan monster, bukan kencan.” Jelas Harris pada gadis yang berjalan di sebelah Alevia itu. 
“Tapi siapa tahu, dari melawan monster bisa jadi emm... sesuatu yang lebih?”
“Nara,” potong Alevia cepat, “jangan mulai.”

Mereka berlima tertawa kecil, dan untuk sesaat, suasana tegang berubah hangat. Namun, jauh di balik keceriaan itu, Alevia tahu sesuatu sedang mengintai dia dan teman-temannya.

Sebelum keluar dari ruang makan, ia sempat menatap ke cermin dinding di dekat pintu yang retak sedikit. Dalam pantulan itu, ia melihat dirinya tersenyum. Tapi lagi-lagi, bukan senyum yang sama.

Di luar gedung, angin pagi menjelang siang berhembus lembut, membawa aroma bunga sihir yang bermekaran di taman sekolah. Dari kejauhan, matahari tampak mulai naik diatas kepala memantulkan warna biru kekuningan di langit.

Harris berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Namun, di antara langkah mereka, ada sesuatu yang baru—entah itu rasa kagum, atau mungkin sedikit keingintahuan yang sulit dijelaskan.

“Jadi,” kata Harris akhirnya, “kamu tidak menyesal ikut campur, kan?”
“Menyesal sedikit,” jawab Alevia, tersenyum tipis. “Tapi kalau tidak ikut, mungkin aku akan bosan.”

Harris menatapnya singkat, lalu menoleh ke langit, “Kamu aneh.”
“Terima kasih, itu pujian terbaik yang kudengar hari ini.” Sahut Alevia.

Harris hanya menggeleng, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Mungkin, untuk pertama kalinya, senyum itu bukan sarkasme. Dan Alevia tahu, hari ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.


BAB 5
Cermin Yang Retak

Langit siang di Aurea High Academy menggantung tenang, tapi hawa di sekitar terasa aneh—seolah udara sendiri menahan napas. Di antara koridor panjang berlapis kaca kristal itu, langkah Alevia menggema lembut. Rambutnya yang sedikit berantakan, berwarna coklat gelap terpantul samar di permukaan dinding kaca, berkilau seperti sinar matahari yang enggan padam. Di pergelangan tangannya, seutas gelang putih dari batu berbentuk bulan sabit memantulkan cahaya tipis setiap kali ia bergerak.

Gelang itu adalah satu-satunya peninggalan dari ayah kandungnya yang hilang sudah lama. Kadang, saat Alevia menatapnya lama-lama, ia merasa ada bisikan lembut yang datang dari dalam batu itu—suara yang menenangkan, tapi juga samar menuntunnya menuju sesuatu yang belum ia pahami.

Di sisi lain koridor, Harris Ravendra berdiri dengan tangan terlipat. Rambut hitamnya tampak rapi meski beberapa helai tertiup angin dari jendela yang terbuka. Sorot matanya—coklat kekuningan, tajam namun dalam—menyapu lorong seperti sedang menimbang setiap gerak Alevia. Sejak insiden bayangan di hari pertama, ia memperhatikan gadis itu lebih dekat. 
Bukan karena rasa penasaran semata, melainkan karena sesuatu dalam dirinya berkata bahwa Alevia bukan gadis biasa.

“Alevia,” panggil Harris dengan nada datar. “Kamu tidak seharusnya berkeliaran sendirian. Koridor ini masih ditutup untuk pemeriksaan.”

Alevia berhenti, lalu menoleh sambil menatapnya dengan mata yang lembut namun penuh rasa ingin tahu. “Aku hanya ingin memastikan… tidak ada lagi bayangan yang tertinggal disini.”
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu tak sepenuhnya tenang. “Lagipula, aku tidak sendirian. Kamu di sini, kan? Bersamaku”

Harris menatapnya sesaat sebelum akhirnya menghela napas pelan. “Jangan terlalu percaya diri. Bayangan kadang muncul dari pantulan hal yang paling tidak kamu duga.” Kata-katanya seperti peringatan, tapi di dalamnya terselip nada khawatir yang tidak biasa bagi seorang seperti Harris.

“Yah nggak salah sih, tapi aku kesini juga untuk mencari ketenangan.” Ungkap Alevia. Harris berjalan mendekat, matanya tertuju pada pemandangan diluar yang sedari tadi ditatap oleh gadis di depannya.

“Apa yang membuatmu pindah kesini? Apa akademi mu yang sebelumnya bermasalah?” Tanya Harris membuka topik pembicaraan baru.

Alevia terkekeh, “Bukan seperti itu. Pihak akademi memindahkan aku kesini, katanya karena sihirku diatas rata-rata” katanya. Harris hanya ber oh ria. Mungkin itu ada benarnya, mengingat Alevia membantu dirinya beberapa saat yang lalu.

“Maaf tentang hari pertamamu kemarin. Aku pikir kamu murid disini, ternyata bukan” pinta pemuda itu. Sebelum Alevia sempat menjawab, terdengar suara kaca retak pelan. crack.

Mereka berdua menoleh serentak. Cermin panjang di ujung koridor, yang biasanya hanya memantulkan bayangan tenang para murid, kini menampakkan retakan halus di tengah permukaannya. Dari celah kecil itu, muncul garis hitam tipis yang tampak hidup, seperti tinta yang merayap perlahan.

Alevia mundur satu langkah. “Harris… itu..” Belum sempat ia melanjutkan kalimat, bayangan di cermin itu bergetar hebat, lalu—crash—pecahan kaca meledak ke segala arah. Dari balik serpihan itu, muncul sosok hitam transparan dengan mata kosong dan gerakan melayang. Udara langsung berangsur dingin.

Harris bergerak cepat. Dengan satu gerakan tangan, cahaya biru berputar membentuk perisai di depan mereka. Pecahan kaca yang melayang membentur perisai itu dan luruh menjadi debu.

“Jangan mendekat!” serunya.

Namun, sosok bayangan itu tidak menyerang Harris. Justru matanya yang kosong berbalik ke arah Alevia, dan sesuatu dalam dirinya seolah terpanggil. Alevia memegangi gelang putihnya yang tiba-tiba bersinar terang. Batu berbentuk bulan di gelang itu berdenyut, seolah merespons kehadiran makhluk dari cermin.

“Aku… aku bisa mendengarnya,” bisik Alevia pelan. “Dia memanggilku…” Harris menatapnya tajam. “Alevia, jangan biarkan itu menyentuhmu!”

Tapi terlambat. Bayangan itu melesat, menembus udara dan menyentuh ujung jari Alevia. Seketika, dunia di sekitarnya berubah. Ia tidak lagi berada di koridor, melainkan di sebuah ruangan abu-abu yang tak memiliki batas. Di mana-mana hanya ada permukaan mengilap seperti kaca, memantulkan bayangan dirinya dari semua arah. Dan di antara pantulan itu, ada sosok yang menatapnya. Sosok itu tampak seperti dirinya, tapi matanya hitam sepenuhnya.

“Siapa kamu?” Alevia berbisik. Pantulan itu tersenyum samar. “Aku adalah bagian darimu yang kamu tolak… bagian yang ingin kamu pahami.”

Suara itu bergema di dalam kepalanya seperti gema ribuan lonceng kecil. Alevia memejamkan mata, memusatkan pikiran, lalu teringat pada gelang putih di tangannya. Ia menggenggamnya erat, dan dalam sekejap, cahaya dari batu itu meledak.

Alevia tersadar kembali ke dunia nyata. Harris sudah di depannya, menahan tubuh bayangan yang tadi mencoba menariknya masuk ke dalam cermin. Keringat menetes di pelipisnya, tapi matanya tetap fokus. Bayangan itu terpental masuk kembali ke dalam cermin.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Harris, napasnya terengah. Tubuhnya tergerak sendiri mendatangi Alevia yang terduduk bingung di belakangnya. Ia berjongkok di sebelah Alevia, mencoba menenangkan.

Alevia menatapnya tanpa suara. Sekilas, ia melihat sesuatu di balik wajah dingin itu—kecemasan. Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, dadanya berdegup aneh. “Aku… aku rasa iya.” Ia tersenyum samar, meski wajahnya pucat. “Terima kasih, Harris.”

Namun Harris tidak menanggapinya dengan senyum, melainkan hanya sebuah anggukan. “Ini bukan hanya soal cermin retak. Bayangan itu memanggilmu secara khusus. Ada sesuatu padamu yang mereka inginkan.”

Alevia menunduk. Jemarinya secara refleks menyentuh gelang putih itu. “Dariku..?”


BAB 6
Cahaya Di Tengah Malam

Sore itu, suasana ruang klub pertahanan sihir terasa berat. Kai duduk di depan meja panjang, jari-jarinya mengetuk buku catatan. Rambutnya berwarna biru tua dengan poni sedikit menutupi mata birunya. Di sebelahnya, Reno memutar pensil sambil bersenandung kecil, berusaha mencairkan suasana. Nara menatap mereka berdua sambil menyesap jus apel—satu-satunya yang tampak santai di antara kelompok itu.

Harris berdiri di dekat jendela, sementara Alevia duduk di kursi tengah dengan tatapan kosong ke arah gelangnya. Sejauh ini ruangan yang paling aman adalah ruang klub mereka, Tanpa cermin. Hanya kaca jendela yang ada disana.

Kai akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun serius. “Bayangan itu muncul dari dalam cermin, bukan dari luar. Artinya, ada celah antara dunia kita dan dunia dalam cermin.” Celetuknya. 

“Celah?” Alevia menatapnya. Kai mengangguk. “Dan karena dia memanggilmu, kemungkinan celah itu terbuka lewatmu. Gelangmu itu mungkin kuncinya.”

Alevia terdiam. Ia tidak tahu harus merasa takut atau tidak. Gelang putih itu tiba-tiba tampak lebih berat di tangannya. Harris menoleh, nada suaranya datar tapi tegas. “Mulai hari ini, kamu tidak akan pergi sendirian kemanapun. Kai, Nara, dan Reno akan mengawasimu.”

Reno menepuk dada. “Siap, bos! Aku akan memastikan tidak ada bayangan yang berani menyentuh sehelai rambut Alevia!”

Harris melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan yang lumayan gelap itu. Entah apa yang bersarang di pikiran nya saat ini tak dapat diekspresikan. Kai menatap datar. “Berlebihan.”

Namun setelah Harris pergi, Kai menatap Alevia lebih lama. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,” katanya pelan. “Bayangan hanya kuat kalau kamu takut pada mereka, begitu kan?”

Alevia menatap matanya yang tenang. Entah kenapa, warna biru itu terasa menenangkan, seperti langit setelah badai. Untuk pertama kalinya sejak insiden tadi, ia tersenyum tipis. “Terima kasih, Kai.”

Kai membalas dengan senyum samar, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat jantung Alevia berdetak sedikit lebih cepat. Ada apa dengannya akhir-akhir ini? Perasaan di masa remaja?

Malamnya, Alevia berdiri di balkon asrama, menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Di kejauhan, kunang-kunang beterbangan di taman belakang asrama. Ia mengangkat pergelangan tangannya, melihat cahaya lembut dari gelang putih itu.

“Kalau benar kamu kuncinya,” bisiknya, “tolong bimbing aku ke arah yang benar.”

Namun pantulan di jendela bergoyang halus, dan untuk sepersekian detik, mata pantulannya bukan lagi hijau zamrud, melainkan abu-abu gelap seperti kabut.

Senyum samar muncul di bibir pantulan itu, lalu hilang secepat kilat. Alevia terdiam. Udara malam mendadak dingin, tapi bukan karena angin. Ia hanya tahu satu hal pasti. Cermin itu… belum selesai berbicara padanya.

Saat dirinya melamun sejenak, terdengar suara langkah kaki dari belakang nya mendekat. Itu Harris.

“Ini sudah malam, dan kamu masih berada diluar? Tidak takut didatangi lagi?” celetuknya. Nadanya tampak seperti sedang menakut-nakuti Alevia.

Yang diajak bicara hanya mengangkat bahu tanda tak peduli. Lagipula mereka berdua tahu tidak ada cermin di balkon, kemungkinan untuk para bayangan itu muncul sangat sedikit.

“Aku akan lanjut berkeliling, kamu cepat kembali ke kamar mu, ini sudah larut malam. Tidak baik seorang gadis tidur terlalu malam.” Pesannya. 

Setelah itu, dirinya meninggalkan Alevia yang masih berdiri tenang di balkon sambil menatap kunang-kunang di bawah sana. “Apa mereka tahu kalau kunang-kunang seindah itu di malam hari?” gumamanya pada dirinya sendiri. Matanya tertuju pada gelang putih di tangannya.

“Untuk bisa seperti kunang-kunang, aku harus bagaimana..?”


BAB 7
Ruang Rahasia Di Lantai Empat

Dua hari sudah berlalu. 
Suara langkah kaki Alevia bergema di tangga batu spiral yang mengarah ke lantai empat akademi. Udara di sana terasa lebih dingin dari biasanya, dan setiap langkah seakan membawa gema samar. Dinding-dindingnya ditutupi lumut sihir berwarna hijau yang berpendar lembut, menerangi jalan sempit itu tanpa bantuan cahaya lilin.

Kai berjalan di belakangnya dengan langkah ringan, kedua tangannya diselipkan di saku almamaternya. Rambut biru tuanya sedikit berantakan karena angin yang masuk dari celah jendela tua. Tatapan matanya beralih ke punggung Alevia yang berjalan di depan—rambut coklatnya berayun lembut setiap kali ia menoleh. Ada sesuatu yang membuat Kai sulit mengalihkan pandangan, sesuatu yang bukan hanya kekaguman… tapi juga gejolak lain yang timbul dalam hatinya.

“Apa kau yakin ruangan ini benar-benar ada?” tanya Alevia sambil menatap anak tangga terakhir.
Kai mengangguk. “Harris menyebutnya Ruang Cermin. Dulu digunakan oleh para penjaga dunia pantulan untuk melatih kemampuan membaca pantulan waktu.”
“Pantulan waktu?”
“Itu seperti melihat kemungkinan yang belum terjadi… lewat bayangan.”

Alevia terdiam. Kata-kata itu menggema dalam pikirannya.
“Mungkin dengan itu aku bisa tahu apa yang terjadi pada ayahku…” pikirnya diam-diam.

Sesampainya mereka di ujung tangga, pintu kayu besar berdiri di depan mereka. Di permukaannya terukir simbol aneh dengan satu batu bulan di tengah—batu yang warnanya sama dengan gelang putih milik Alevia. Kai menyentuh ukiran itu. “Coba letakkan tanganmu di sini,” katanya pelan.

Begitu jari Alevia menyentuh permukaan pintu, gelang putihnya berkilau terang. Batu bulan di gelang dan yang tertanam di pintu tampak beresonansi. Cahaya menyebar seperti serabut, membentuk pola yang rumit. Lalu cklek! pintu itu terbuka.

Udara dingin melesak keluar. Di dalam, ruangan itu tampak seperti aula dengan dinding-dinding dengan berbagai jenis cermin di setiap sisi. Lantai batu ungu gelapnya berkilau seperti air tenang, dan di tengah ruangan terdapat lingkaran besar dengan simbol kuno.

Alevia menatap sekeliling, kagum sekaligus gelisah. “Ruangan yang cukup menarik, tapi… kenapa aku merasa seperti sedang diawasi?”
Kai tersenyum tipis. “Karena kau memang sedang diawasi. Setiap cermin di sini hidup. Mereka merekam semua yang terjadi di dunia luar.”

Alevia menelan ludah kasar. Kai melangkah maju, kemudian menatap pantulan mereka berdua di salah satu cermin besar.
“Cermin bukan hanya alat untuk memantulkan bayangan,” ujarnya pelan. “Mereka juga menyimpan emosi dari orang yang menatapnya.”

Alevia menatap pantulan mereka—dua sosok berdiri berdampingan dalam cermin. “Maksudmu, mereka bisa merasakan… apa yang kita rasakan?”

Kai mengangguk. “Dan kadang, kalau emosi itu terlalu kuat, cermin bisa meretak. Sama seperti hati manusia.” Alevia terdiam lama. “Kau berbicara seperti seseorang yang sudah pernah mengalaminya,” ujarnya pelan. Kai memalingkan wajahnya. “Mungkin karena aku memang pernah. Dan sekarang aku tidak mau ada orang lain yang mengalaminya lagi.”

Kalimat itu menggantung lama di udara, sebelum Alevia tersenyum kecil. “Terima kasih karena sudah menemaniku ke sini, meski aku tak tahu dengan alasan apa kau membawaku kesini.”

Kai menatapnya. “Aku tidak perlu alasan untuk melindungimu, maka dari itu aku memberitahumu tentang tempat ini, agar kau tau bagaimana cara melindungi dirimu sendiri.”

Ucapan itu sederhana, tapi tatapannya jujur—dan Alevia merasakannya. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan jelas. Untuk sesaat, ia melupakan semua bayangan, semua ketakutan, hanya melihat Kai yang berdiri di hadapannya dengan senyum tipis lembut itu.

Namun, sebelum keheningan itu berubah menjadi sesuatu yang lain, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Pintu terbuka. Harris berdiri di ambang pintu, sorot matanya tajam dan dingin. “Apa yang kalian lakukan di sini?”


BAB 8
Sebuah Harapan

Kai menatapnya dengan tenang, tapi nada suaranya sedikit menegang. “Mengajari Alevia cara membaca pantulan. Itu penting kalau kita ingin memahami kenapa dunia cermin terus memanggilnya.”

Harris berjalan mendekat, mantel hitamnya berayun ringan. “Aku tidak menyuruhmu membawa dia ke ruangan ini.”
Kai membalas dengan cepat, “Tapi aku melakukannya karena kau terlalu sibuk menutup kemungkinan.”

Suasana tiba-tiba berubah tegang. Alevia menatap keduanya bergantian, merasakan ketegangan yang sulit dijelaskan. Harris melangkah lebih dekat, berdiri hanya beberapa langkah dari Kai. “Kau pikir ini tempat latihan biasa? Cermin di sini bisa menghisap jiwa siapa pun yang tidak siap, Kai.”

“Dan kau pikir aku akan membiarkannya sendirian?” balas Kai, nada suaranya tajam kali ini. “Kau tidak satu-satunya yang bisa menjaganya, Harris.”

Hening sejenak. Hanya gema suara mereka yang terdengar. Alevia akhirnya berdiri di antara keduanya, mencoba menenangkan. “Sudah cukup. Aku di sini karena aku ingin tahu hal baru. Bukan karena aku ingin kalian bertengkar.”

Harris mengernyitkan dahinya, “Kau tidak mengerti, Alevia. Dunia cermin bukan tempat untuk dihadapi tanpa perlindungan.”
Kai menatap Harris tajam. “Mungkin dia lebih kuat dari yang kau kira.”

Untuk sesaat, tatapan mereka beradu—dua sisi dari satu tujuan yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. Di balik itu semua, ada sesuatu yang tak terucap—rasa yang sama, tapi mereka menahannya dalam diam.

“Sudah lupakan saja teman-teman, ayo kita sebaiknya kembali ke asrama saja. Aku pikir tidak baik berlama-lama disini” Saran Alevia itu mendapat anggukan setuju dari Kai.

Beberapa waktu berlalu setelah kejadian itu. Alevia kini berlatih hampir setiap sore di ruangan rahasia itu, ditemani Kai. Mereka belajar mengendalikan pantulan, membaca ingatan yang tertinggal di permukaan kaca, dan kadang berbicara tanpa kata. Kai mulai terbuka sedikit demi sedikit, bercerita tentang masa lalunya yang kehilangan seseorang karena bayangan dunia cermin. Alevia mendengarkan dengan penuh empati, dan tanpa disadari, keduanya semakin dekat.

Namun, dari kejauhan Harris sering memperhatikan. Dari balik balkon, ia melihat bagaimana Alevia tersenyum bersama Kai, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada sesuatu yang menusuk dadanya pelan, sesuatu yang tidak ingin ia akui. “Ck”

Dan malam itu, ketika Alevia berlatih di depan cermin besar, tiba-tiba cahaya gelang putihnya menyala lebih terang dari biasanya.
Kai menatapnya dengan cemas. “Alevia, berhenti dulu! Cerminnya bereaksi aneh!”

Tapi Alevia tidak sempat mundur. Cermin di depannya bergetar hebat, dan di balik pantulan itu sesosok bayangan muncul samar—siluet seorang pria dengan mata hitam dan senyum dingin.

“Siapa itu…?” gumam Kai, bersiap siaga.

Alevia memandangi pantulan itu. Sosok itu menundukkan kepala sedikit, seolah menyapa dengan nada lembut tapi berbahaya.

“Sudah lama, Alevia,” suara dari pantulan itu bergema—dalam, menenangkan, namun berisi sesuatu yang menggetarkan. “Aku akhirnya bisa bertemu denganmu lagi.”

Gelang putih Alevia terikat erat. Cermin bergetar, dan suara itu kembali, lebih pelan, lebih menggetarkan jiwa, dan seakan mencekik. “Namaku Theodore Black… kalian bisa memanggilku apa saja.”

Pantulan itu tersenyum samar, sementara Alevia terpaku, merasakan sesuatu yang aneh—campuran rasa takut, tapi juga rasa familiar, seolah ia pernah mengenal suara itu dari kehidupan lain. Kai berdiri di depannya, siaga. “Jangan dengarkan dia, Alevia.” Namun tatapan Alevia tak bisa lepas dari cermin itu.

Dan di balik kaca yang berkilau biru, mata Theodore menatapnya dalam, seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama. Tetapi Alevia masih merasa asing, siapa bayangan di depannya ini sebenarnya? tidak ada bayangan yang bisa berbicara seperti ini sebelumnya.

BAB 9
Bayangan Yang Menyamar

Langit malam masih menyisakan kabut tipis setelah mereka kembali dari ruangan di lantai 4 itu. Di asrama, suasana sudah senyap—hanya gemericik hujan yang mulai turun diluar jendela dan hembusan angin yang menggesek dedaunan. Namun bagi Alevia, ketenangan itu terasa semu. Sejak kejadian tadi—bayangan yang muncul di cermin tua di ruang lantai atas akademi—pikiran gadis itu terus berputar tanpa henti.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap gelang putih di pergelangan tangannya. Cahaya gelang itu berdenyut lembut, seolah mengikuti irama napasnya. “Kenapa kau bergetar malam ini?” bisiknya dalam hati.

Harris, Kai, Reno dan Nara sudah tertidur di kamarnya masing-masing. Tapi bagi Alevia, tidur adalah hal mustahil malam itu. Setiap kali ia menutup mata, bayangan di cermin itu kembali terlintas—seolah memanggilnya dengan suara yang tidak terdengar.

Pelan-pelan, ia berdiri. Langkah kakinya menuntunnya ke cermin kecil yang ada di meja belajarnya di dekat jendela kamar. Permukaannya memantulkan sedikit cahaya bulan yang jatuh dari jendela.  Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Aku tahu kau ada di sana.”

Permukaan cermin itu bergetar lembut—seperti air yang disentuh oleh sesuatu dari balik sana. Seketika, udara di kamar menjadi dingin. Alevia menahan napas saat sosok perlahan muncul dari balik pantulan. Rambutnya hitam tak beraturan, matanya berpendar biru di tengah kegelapan. Theodore.

Sosok itu menatapnya dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. “Hal yang jarang terjadi, kenapa memanggilku, Alevia?”
Alevia menggeleng pelan. “Aku tidak memanggil siapa pun.”

Theo menundukkan kepala sedikit, ia terkekeh tapi mengandung sesuatu yang aneh. “Setiap kali kau merasa sendirian, hatimu yang memanggilku. Aku hanya menjawab panggilan itu.”

Cahaya gelang putih berdenyut, seperti menolak kehadirannya. Namun Alevia tak bisa berpaling. Ada daya tarik yang tak bisa dijelaskan—antara takut dan rasa ingin tahu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Alevia penasaran.

Theo tersenyum samar. “ Bukankah aku sudah memperkenalkan diri sebelumnya? Namaku Theodore Black. Penjaga bayangan dari dunia yang terlupakan. Dunia tempat cahaya dan kegelapan pernah hidup berdampingan sebelum manusia memisahkannya.”

Alevia menyipitkan mata. “Dunia yang terlupakan?” Theo mengangguk. “Ya. Dunia yang pernah menjadi rumah bagi ibumu. Dunia Cermin.”

Alevia terpaku. “Ibu…?”

“Ibumu, Selevie Rosetta. Ia datang padaku ketika dunia hampir runtuh dalam keadaan mengandung seorang anak. Ia berbeda dari manusia lain—penuh cahaya, tapi juga membawa bayangan. Aku yang menciptakan gelang itu, untuk menyeimbangkan dua kekuatan yang ada dalam darahmu.” Theo menatap gelang putih di tangan Alevia.

“Itu bukan sekadar gelang biasa yang bercahaya, Alevia. Itu segel yang menahan sisi lain dari dirimu.” Alevia menunduk, menatap gelang itu dengan mata bergetar. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Theo menarik napas panjang. “Karena keluarga Ravendra lah yang memenjarakan ibumu. Dan mereka tidak ingin kau tahu kebenarannya.”

Mata Alevia terbelalak, seolah di cekik oleh udara dingin malam itu. “Tidak mungkin…” Alevia berbisik, suaranya parau. “Harris… dia tidak seperti itu.”

Theo mendekat sedikit ke permukaan kaca. “Mereka memang tidak jahat, hanya takut. Takut kehilangan kendali. Tapi bukankah ketakutan mereka sekarang malah membuatmu merasa tertekan?”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Alevia sadari. Ia menatap sosok dalam cermin itu—wajah yang seakan menyimpan duka dan penderitaan. “Kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau sampai memberitahuku hal sepenting ini? ” tanyanya.

Theo tersenyum tipis. “Karena aku pernah mengenal cahaya yang sama dalam dirimu. Dan karena aku pernah berjanji pada ibumu untuk melindungimu.” Tatapannya tak berbohong. “Namun lama setelah itu, aku menemukan alasan lain.”

Alevia menatapnya bingung. “Alasan lain?”

Theo menunduk sedikit, suaranya nyaris seperti bisikan. “Karena aku menyukai sosok yang menatapku dari sisi dunia yang tak bisa kusentuh.” Cahaya gelang di tangan Alevia bergetar makin kuat, tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang menahan langkahnya. 

Theo menatapnya dengan pandangan lembut. “Aku tidak ingin menguasaimu, Alevia. Aku hanya ingin kau tahu… bahwa aku ada. Dan aku akan selalu di sini—menunggu, sampai kau siap melihatku bukan sebagai bayangan yang jahat, tapi sebagai bagian dari dirimu sendiri.”

Cermin bergetar lembut, lalu kembali tenang. Bayangan Theo menghilang dalam sekejap. Alevia menatap pantulannya sendiri lama, masih dengan napas yang belum stabil. Kata-kata Theo terus menggema di kepalanya. “Dunia yang terlupakan… ibuku..” gumamnya perlahan.

Di luar, hujan berhenti. Tapi di dalam dirinya, badai baru saja dimulai. Dan di balik pantulan cermin yang tampak tenang, Theo tersenyum samar, suaranya bergaung lembut dalam kegelapan “Kau tidak perlu khawatir, Alevia… biar aku yang memimpin langkahmu.” Senyum yang tak biasa, merekah di wajah bayangan bermanik biru itu.

BAB 10
Tawa Di Tengah Gelap

Sudah tiga hari sejak malam ketika bayangan di cermin itu berbicara padanya. Tiga hari sejak nama Theo mulai berputar diam-diam di dalam kepalanya. Namun bagi Harris dan yang lain, semuanya tampak biasa saja. 

Pagi itu, lobi utama Aurea High Academy dipenuhi suara riuh para murid berlarian, latihan sihir dasar, dan persiapan untuk acara tahunan Festival Cahaya yang akan datang.

Harris berdiri di tengah lapangan, memegang tongkat sihir yang sedikit berasap. “Serius, Kai! Bukankah sudah kubilang, jangan mainkan mantra api di dekat meja kayu!”

Kai, dengan rambut birunya yang berantakan dan mata biru yang seperti tak pernah kehabisan cahaya kenakalan, hanya nyengir. “Tenang saja, Riss! Aku hanya ingin membuat sedikit efek dramatis.”

Nara menepuk dahinya pelan. “Efek dramatisnya hampir membakar seragamku, Kai.”

Tawa pecah di antara mereka. Bahkan Alevia ikut tersenyum kecil, meski hanya sebentar. Di bawah sinar matahari pagi, gelang putih di pergelangan tangannya memantulkan cahaya pucat—berbeda dengan pantulan sinar bulan.

“Lev,” Harris memanggilnya lembut, mendekat. “Kau baik-baik saja, kan? Akhir-akhir ini kau kelihatan... aneh.”

Alevia menatapnya cepat, lalu memaksakan senyum. “Aku baik-baik saja, Ris.” Harris mengangguk, tapi tatapannya tidak pergi dari wajahnya. Ada sesuatu yang ia rasakan, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. 

“Aku dengar keluargamu dulu penjaga perbatasan antara dua dunia ya?” Tanya Alevia. Orang yang mendengarnya pasti berpikir kalau itu hanya pertanyaan biasa. Tapi bagi Alevia, jawaban Harris adalah kunci untuk dirinya percaya atau tidak dengan si bayangan itu.

“Benar. Kakek dan Ayahku bekerja di kementrian sihir. Mereka juga mengawasi hutan sihir dan segala yang berkaitan dengan ancaman” jelasnya. 

Alevia mengangguk paham. Tapi jawaban itu tak langsung membuktikan bahwa ucapan Theodore benar.

“Emmm.. Lev, Apa kamu tidak merasa familiar sama sekali dengan ku?” Tanya Harris balik pada Alevia. Gadis itu memiringkan kepalanya.

“Kurasa tidak.. Ini pertama kali aku bertemu denganmu. Ah, tapi aku juga tidak tau benar atau tidak”
“Apa maksudmu?”
“Waktu kecil aku sempat kecelakaan dan kepalaku terkena benturan keras, kata ibuku aku tidak mengingat beberapa hal. Bisa jadi itu salah satunya”

Harris mengangkat alisnya. Memang benar sih kejadian ‘itu’ sudah lama sekali. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Kai sudah melambaikan tangan dari kejauhan. “Hey, Lev! Sini! Kita latihan bersama!”

Alevia sempat menoleh ke Harris sejenak, tapi kemudian berjalan menuju Kai. Kai tersenyum lebar, lalu menyerahkan satu bola sihir berwarna ungu terang. “Kau mau tahu rahasia supaya mantra ilusi bisa tetap stabil?” Alevia mengangguk pelan. “Apa itu?”

Kai menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan nada bercanda, “Percaya pada orang yang selalu bersamamu.” Alevia tertawa kecil, kali ini sedikit tulus. “Kau terlalu sering bicara seperti buku motivasi, Kai.”

Kai mengangkat alis, pura-pura tersinggung. “Hei, aku bisa jadi bijak kalau aku mau.” Tatapan matanya sedikit melembut. “Dan aku bisa jadi serius kalau itu tentangmu.”

Kata-kata itu membuat Alevia mengalihkan pandangan secepat kilat, pipinya sedikit memanas. Tapi sebelum suasana menjadi canggung, Nara muncul dari belakang dan menepuk bahu Kai keras-keras. “Sudah, Romeo gadungan. Fokus ke latihanmu.”

Semua tertawa, dan tawa itu mengisi udara—ringan, hangat, dan nyaris seperti dulu. Alevia yang memandang itu mengucap ribuan kata syukur di hatinya, bahwa pertemanan mereka sama sekali tidak terganggu oleh kegelapan.

“Lihatlah mereka, Alevia… mereka tertawa karena tidak tahu siapa kau sebenarnya.” Suara itu bergema di dalam kepala Alevia.

Alevia memejamkan mata sejenak, menenangkan dadanya yang berdebar aneh. Ketika membuka mata, pandangan Kai sedang tertuju padanya. 

“Kamu kenapa, Lev?” Tanya nya dengan nada yang lembut.
“Aku hanya senang kita masih bisa tertawa bersama seperti ini” 
“Hahaha, kita akan selalu seperti ini Lev, sampai kapanpun”

Keduanya terkekeh. Memang pertemanan mereka tidak diragukan lagi, selera humor yang sama dan pemikiran yang padu. Alevia yakin bahwa kekuatan persahabatan ini akan mampu mengalahkan kegelapan bayangan.

Harris, di sisi lain, berdiri tak jauh, memperhatikan dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan, campuran cemburu dan kalah saing. Tapi dalam beberapa saat dia tersadar, selama orang yang dia sayang bahagia, maka dia juga akan ikut bahagia untuknya.

BAB 11
Kenangan Terindah

Sore harinya, mereka berkumpul di tepi danau di belakang akademi. Langit oranye keemasan, air danau berkilau cantik. Nara membawa termos yang berisi cokelat panas, Kai sibuk melempar batu kecil ke permukaan air, Reno yang berbaring sambil memainkan dedaunan yang gugur dan Harris duduk di rerumputan, menatap matahari yang perlahan tenggelam.

“Dunia ini aneh, ya,” gumam Alevia tiba-tiba. Kai menoleh. “Kenapa?”
“Kadang... hal yang terlihat paling indah bisa berubah menakutkan kalau kita menatapnya terlalu lama.” Kai menatapnya dengan wajah serius untuk pertama kalinya. “Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Lev. Tapi kalau ada sesuatu yang terjadi, sebaiknya jangan disimpan sendiri.”

Alevia menatap pantulan wajah mereka di air. “Aku hanya takut kalau aku bicara, semua orang akan menjauh.” Kai menggeleng, “Aku tidak. Aku tidak akan pergi. Bahkan kalau kau mengatakan jika dunia ini akan terbelah dua karena kesalahanmu.” Alevia teetawa kecil. Kai mengangkat alisnya heran, “Apa yang lucu? Aku serius” ulangnya.
“Iya Kai aku percaya pendapatmu, terimakasih sudah menghiburku” ucap gadis itu. Harris yang duduk tak jauh dari situ menatap mereka diam-diam. Tangannya menggenggam sebuah kerikil kecil dengan sangat erat.

“Ren,” panggil Harris pada temannya yang sedang merebahkan diri di rumput itu. Nara yang ada di sebelahnya ikut menoleh. “Kalau aku melempar kerikil ini pada seseorang karena kesal apakah menyenangkan?” pertanyaan yang keluar dari mulut Harris itu sukses memecah tawa Reno dan Nara.

“Hahaha! Kamu ini Ris, jangan dong. Nanti anak orang luka-luka karena emosi mu itu” timpal Nara. Reno mengangguk setuju, “Memang kau sedang kesal kenapa? Tidak biasanya.”

“Kesal dengan musang.” Reno mengernyitkan dahinya, ia bingung siapa yang dimaksud Harris. “Halah bilang saja kau cemburu pada Kai” celetuk Nara penuh kejujuran. “Mengada-ngada” tangannya tergerak melempar kerikil itu ke danau di hadapannya.

Matahari sudah bersembunyi dari pandangan manusia dan malam pun tiba. Alevia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Ia menoleh ke arah cermin yang tertutup kain putih di pojok kamar, tapi tetap bisa merasakan tatapan yang mengintai dari balik sana. Cahaya gelang putihnya berdenyut pelan.

“Kau semakin mempercayaiku, bukan?” Suara Theodore bergaung samar di kepalanya. “Kau tak perlu berpura-pura bahagia di antara mereka. Dunia mereka takkan pernah memahami luka yang kau bawa.”

Alevia menutup mata rapat. Tapi entah kenapa, air mata justru menetes pelan. Ia tidak tahu mana yang benar saat ini, teman-temannya atau Theodore. Yang ia tahu, malam terasa semakin sunyi. Dan di luar jendela, seekor kunang-kunang berkelip lembut di kegelapan.

Dibalik pintu, sosok gadis berambut pink gelap sudah bersiap hendak mengetuk pintu kayu itu. Tapi ia mengurungkan niatnya, sepertinya temannya itu sedang tidak bisa diganggu saat ini. Satu tangannya mengenggam erat amplop kecil.

“Mungkin tidak sekarang” gumamnya. Langkahnya mulai beralih pelan menuju ke ruang utama asrama, dimana hanya beberapa anak saja yang masih terbangun malam itu. 

Sofa kuning melayang dengan beberapa furnitur lainnya yang ada di sudut ruangan kini dikuasai oleh Reno dan juga Harris. Nara datang masih dengan amplop yang sama yang dia pegang sebelumnya.

“Dia sudah tidur, Ra?” Tanya Harris memastikan. Nara memposisikan dirinya duduk di sofa seberang Harris. Gelengan kepala menjadi jawaban pertama dari Nara.

“Aku masih mendengar dia bergumam, tapi kurasa dia sedang tidak ingin diganggu dulu Harris. Kamu simpan lagi saja amplop ini” lanjutnya.

Tangan Harris tergerak mengambil amplop yang diacungkan oleh Nara. Ia memandangi amplop itu sejenak sebelum menyimpannya ke dalam saku bajunya.

“Tumben Kai tidak kesini,” celetuk Reno sambil memainkan yoyo yang ada di tangannya. “Tidak mungkin dia sudah tidur jam segini kan”
Harris hanya tersenyum getir mendengar itu. Mendengar namanya saja sudah membuat Harris naik darah sebenarnya. Reno menyadari hal itu sedari tadi, ada hal yang tidak dia ketahui.

“Kau ini kenapa sih Ris? Kayaknya lagi gak akur sama Kai.” Tanya Reno serius. “Nggak ada, jangan bahas dia, menyebalkan” tanggap Harris. Reno hanya menghela nafas sambil memainkan yoyonya. Nara yang sedari tadi diam, menyadari bahwa  pembicaraan mereka di dengar oleh seseorang dari lorong. “Kai?”

Pemuda bersurai biru tua itu berjalan menyusuri lorong menuju ke lantai 2—kamar Alevia berada. langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar gadis bersurai coklat se punggung itu. Jari jemarinya mengetuk pintu perlahan tiga kali. 

tok tok tok

"Siapa?" sahut suara dari dalam kamar itu dengan nada yang parau dan serak. Kai ragu sejenak, apa tindakan nya ini benar atau salah? ia hanya ingin melindungi senyum yang indah itu. 

"Kai" jawabnya. Segera langkah kaki tergesa terdengar dari dalam sana. Pintu terbuka secara tergesa. Mata Kai terbelalak, badannya terhuyung sedikit ke belakang. Alevia baru saja memeluknya secara tiba-tiba tanpa aba aba sama sekali. 

"Lev?" lirih Kai memastikan gadis yang memeluknya ini baik-baik saja. 
"Biarkan aku Kai. Sebentar saja." Pintanya. Tangannya meremas kaos Kai erat, matanya bengkak dan masih mengeluarkan air mata. Pemuda biru itu terdiam, netra birunya meredup lembut menatap berapa rapuhnya Alevia saat ini. Hanya dihadapannya. 

Kai membalas pelukan Alevia, menangkan badai dalam hatinya dalam sunyi. Sama seperti kesunyian orang yang sedang menyaksikan itu dari balik tangga. Nara mendengar percakapan itu. Firasatnya berkata bahwa ini tidak akan berlangsung baik.