man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

Guru MAN 3 Bantul Larut dalam “Strategi Jitu dalam Berproses Kreatif” pada MGMP Bahasa Indonesia MA DIY

Abban Said

Kontributor

99
Rabu, 20 Mei 2026 · 00:18 WIB
Blog Image

Bantul (MAN 3 Bantul) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah (MA) se-Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar pertemuan strategis bertajuk “Strategi Jitu dalam Berproses Kreatif” di Oemah Canting, Padukuhan Karangkulon, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (19/5/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan praktisi sastra dan budayawan, Tedi Kusyairi, sebagai narasumber utama, guna menggali potensi guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pencipta karya bernilai ekonomi dan intelektual tinggi.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA DIY, Azhariansyah, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini di tengah kesehatan yang senantiasa dikaruniakan Allah SWT. Ia mengapresiasi kehadiran para peserta yang datang dari berbagai wilayah di DIY, mulai dari Kulon Progo hingga Gunung Kidul.

Menariknya, pertemuan kali ini mengambil lokasi di ruang terbuka yang asri, sebuah pendekatan baru yang jarang dilakukan, sekaligus menjadi sarana silaturahmi. Lokasi kegiatan yang berada di kawasan wisata Imogiri juga memberikan suasana inspiratif, dengan peserta diundang untuk berkeliling ke destinasi sekitar seperti Hutan Pinus, Mangunan, dan kompleks Makam Raja-raja Mataram usai acara selesai.

Azhariansyah berharap, kehadiran Tedi Kusyairi yang telah lama berkiprah di dunia sastra, jurnalistik, dan perfilman dapat berbagi wawasan nyata. “Kami yakin Bapak Ibu guru sejatinya sudah memiliki bibit-bibit kreativitas. Kehadiran narasumber hari ini diharapkan dapat mempertajam cara pandang kami, agar ilmu dan pengalaman menulis ini nantinya bisa ditularkan kembali kepada anak didik di madrasah masing-masing,” ujarnya.

Dalam pemaparan utamanya, Tedi Kusyairi menegaskan bahwa guru Madrasah Aliyah di DIY memiliki posisi yang sangat istimewa dan strategis. Di bawah payung keistimewaan daerah dan dukungan kebijakan Kementerian Agama, guru tidak sekadar pengajar, melainkan garda terdepan dalam pengembangan literasi keagamaan dan budaya. Sayangnya, kata Tedi, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal dalam kerangka berpikir investasi jangka panjang.

“Bapak Ibu guru berada di posisi emas. Pertanyaannya, apakah posisi ini hanya dijalani sebagai rutinitas mengajar, atau dijadikan landasan untuk menghasilkan karya besar? Saya mengajak rekan-rekan untuk bertekad menjadi kaya. Bukan kaya harta semata, meski itu penting untuk menunjang kreativitas, namun yang paling utama adalah kaya pengetahuan dan kaya karya,” tegas Tedi di hadapan puluhan guru yang hadir.

Pegiat sastra yang juga Ketua Yayasan Literasi Edukasi Sastra Nusantara (LESaN) ini menekankan bahwa menulis adalah bentuk investasi dengan modal paling murah namun berkeuntungan tak terbatas. Di era transformasi digital, konsep menabung tidak lagi hanya soal uang di bank, melainkan menabung gagasan, tulisan, dan karya yang dikenal sebagai Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP).

“Dunia pendidikan saat ini masih jarang mengajarkan pola pikir investatif. Padahal, sebuah tulisan yang dikemas dengan baik bisa bertransformasi menjadi buku cetak, buku digital, naskah film, hingga konten media sosial yang bernilai jual tinggi dan dibutuhkan lintas negara. Media sosial bukan tempat pamer gaya hidup atau sekadar ikut-ikutan tren (FOMO), tapi panggung gratis untuk membangun merek diri dan memublikasikan karya agar dikenal luas,” jelasnya.

Untuk memudahkan guru memulai atau mengembangkan kebiasaan menulis, Tedi membagikan strategi praktis. Langkah awal yang paling aman dan mudah adalah menulis hal-hal yang paling dekat dengan diri sendiri sesuai hobi, pengalaman mengajar, atau hal yang benar-benar dipahami. Hal ini memudahkan penyusunan alur tulisan dan pencarian referensi.

Selanjutnya, untuk menaikkan kelas kualitas karya, guru disarankan mulai mengangkat tema-tema perenial atau tema abadi yang tak lekang oleh waktu, seperti nilai agama, kemanusiaan, cinta kasih, keadilan sosial, hingga kritik budaya, namun dikemas dengan sudut pandang yang orisinal dan khas guru.

“Jangan lupa, jadilah penyunting pertama bagi tulisan Anda sendiri. Baca ulang, perbaiki, dan pastikan kualitasnya terjaga sebelum dikirim ke penerbit. Ketika karya sudah matang, selektiflah memilih penerbit yang tidak hanya mencetak buku, tapi juga menghargai hak cipta dan memiliki jaringan distribusi yang luas, termasuk pasar digital,” tambah penulis buku Gelas-gelas Malioboro ini.

Menanggapi tantangan kehabisan ide atau kebuntuan menulis, Tedi menyarankan cara sederhana namun efektif: rajin mengikuti lomba karya tulis. “Jangan terpaku pada kemenangan. Ikut lomba itu soal melatih disiplin waktu. Lihatlah karya pemenang, pelajari kelebihannya, lalu jadikan bahan pembelajaran untuk diri sendiri,” ucapnya.

Di penghujung sesi, Tedi memberikan analogi yang menggugah semangat. “Kalau pemancing biasa, hasil kerjanya cuma ikan yang dimakan hari itu juga. Tapi Bapak Ibu adalah pemikir berilmu. Anda bisa menulis buku tentang 'ilmu memancing', menjualnya, dan mendapatkan keuntungan berulang kali lewat royalti selamanya. Itulah bedanya pekerja biasa dengan pekerja intelektual,” tandasnya.

Kegiatan ini meninggalkan pesan mendalam bagi seluruh peserta. Diharapkan, para guru Bahasa Indonesia MA se-DIY tidak hanya pulang membawa materi, tetapi juga semangat baru untuk memproduksi karya. Langkah ini dinilai krusial agar madrasah semakin tampil beda, unggul, dan mampu melahirkan generasi muda yang gemar berliterasi dan berkarya nyata. (Ris)