man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

Olah Naskah Drama Jadi Cerita Pendek, Keseruan Ujian Praktik Siswa MAN 3 Bantul

Abban Said

Kontributor

154
Selasa, 27 Januari 2026 · 22:52 WIB
Blog Image

 
Bantul (MAN 3 Bantul) – Menulis cerita pendek (cerpen) sering kali menjadi tantangan berat bagi siswa. Banyak yang merasa "mentok" saat menghadapi kertas kosong karena bingung menentukan alur atau memulai kalimat pertama. Namun, pemandangan berbeda tampak di MAN 3 Bantul.

Sepanjang pekan ini, mulai Senin (26/1) hingga Jumat (30/1/2026), siswa kelas XII MAN 3 Bantul tengah menempuh ujian praktik menulis cerpen dengan metode yang unik, yakni menggunakan media naskah drama.
Strategi ini terbukti efektif mengubah ketegangan ujian menjadi proses kreatif yang menyenangkan.

Strategi 'Kerangka Tulang': Memudahkan Imajinasi
Metode ini berangkat dari pemikiran bahwa naskah drama menyediakan "kerangka tulang" cerita yang sudah matang. Siswa tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari ide dasar. Ris Mulyati Sholikhatul Muslikah, S.Pd., guru pengampu yang mendampingi kegiatan ini, menjelaskan bahwa media naskah drama membantu siswa fokus pada pengembangan bahasa tanpa terbebani kerumitan ide.
"Dalam naskah drama, alur dan karakter sudah terpetakan lewat dialog. Siswa tinggal melakukan teknik 'ATM'—Amati, Tiru, dan Modifikasi—untuk mengembangkannya menjadi narasi yang mengalir," jelasnya.

Melatih Teknik Show, Don’t Tell
Salah satu keunggulan utama metode ini adalah melatih teknik jurnalisme dan kepenulisan Show, Don’t Tell. Siswa diajak mengubah instruksi laku (dalam kurung) pada naskah drama menjadi deskripsi yang hidup. "Misalnya, jika di naskah tertulis tokoh sedang marah, siswa ditantang mendeskripsikan amarah tersebut melalui pilihan diksi yang indah, bukan sekadar menulis 'dia marah'.
Ini yang membuat cerpen mereka menjadi lebih berkualitas," tambah Ris Mulyati.

Lahirkan Penulis Muda dari Madrasah
Melalui ujian praktik ini, beban kognitif siswa berkurang sehingga mereka bisa lebih bereksperimen dengan pilihan kata (diksi) dan penyusunan kalimat. Hasilnya, naskah drama yang awalnya hanya berisi percakapan, berubah menjadi prosa yang kaya akan deskripsi latar dan emosi.

Antusiasme siswa terlihat selama pelaksanaan ujian.
Mereka merasa lebih percaya diri karena alur cerita (awal, konflik, hingga resolusi) sudah ada di depan mata. Inovasi pembelajaran di MAN 3 Bantul ini diharapkan mampu menghapus stigma bahwa menulis itu sulit. Lebih dari sekadar mengejar nilai ujian atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), kegiatan ini diharapkan mampu memantik lahirnya bibit-bibit penulis muda yang kompeten dari lingkungan madrasah.(Ris)