man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

Pekan Ujian KTI: Kukuhkan MAN 3 Bantul sebagai Madrasah Riset

Abban Said

Kontributor

35
Kamis, 11 Juni 2026 · 01:17 WIB
Blog Image


Bantul (MAN 3 Bantul) – Mengukuhkan eksistensinya sebagai salah satu madrasah riset unggulan, MAN 3 Bantul sukses menggelar hari kedua ujian Karya Tulis Ilmiah (KTI) bagi siswa kelas XI G pada Kamis (11/06/2026). Menariknya, agenda akademis yang dilaksanakan tepat setelah rampungnya Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) ini tidak sekadar menjadi formalitas pengisian nilai. Kepala MAN 3 Bantul, Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd., bahkan turun gunung langsung bertindak sebagai dewan penguji guna membedah sekaligus menguji kedalaman argumentasi para peneliti muda tersebut.

Ujian KTI ini merupakan bagian integral dari kegiatan kokurikuler madrasah yang dirancang untuk menerjemahkan tipologi MAN 3 Bantul sebagai madrasah riset. Melalui program berbasis metodologi ini, para siswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengasah kepekaan sosial, kemampuan analisis, hingga teknik presentasi ilmiah berdasarkan kajian yang telah mereka lakukan selama satu semester terakhir. Dr. Suyanto menegaskan bahwa keterbimbingan siswa dalam dunia riset sejak bangku madrasah aliyah adalah investasi besar bagi masa depan akademik mereka.

"Riset bukan sekadar menyusun bab demi bab di atas kertas, melainkan sebuah proses melatih kejujuran berpikir, kedisiplinan, dan pemecahan masalah secara objektif. Kami ingin melahirkan generasi madrasah yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga kokoh dan kritis secara intelektual saat melihat fenomena di sekitarnya," ujar Suyanto di sela-sela menguji.

Dalam teknis pelaksanaannya, setiap kelas didelegasikan ke dalam beberapa kelompok penelitian mandiri. Guna menumbuhkan kepedulian yang kontekstual, setiap kelompok dibebaskan mengeksplorasi topik yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Hasilnya, beragam klaster tema menarik berhasil dipaparkan dengan apik, mulai dari inovasi pendidikan, problematika sains-lingkungan, hingga dinamika sosial-keagamaan remaja kontemporer. Sebelum sampai pada tahapan sidang yang krusial ini, setiap kelompok tercatat telah melewati proses bimbingan intensif bersama guru pembimbing dengan frekuensi konsultasi rata-rata tiga hingga enam kali pertemuan.

Pada sesi presentasi yang berlangsung di ruang-ruang kelas yang telah disiapkan, atmosfer akademis terasa begitu kental. Para siswa secara bergantian memaparkan draf hasil penelitian mereka di hadapan penguji dan dengan berani mempertahankan argumentasi atas berondongan pertanyaan kritis yang diajukan. Proses pengujian ini memang didesain secara komprehensif untuk mengukur pemahaman metodologi sekaligus melatih kecakapan critical thinking serta public speaking siswa.

Kendati dinamika sidang berlangsung serius dan penuh ketegangan akademis, suasana tetap berjalan kondusif. Para siswa tampak antusias dan runut dalam menjelaskan temuan lapangan mereka secara sistematis. Di akhir setiap sesi, dewan penguji memberikan catatan evaluasi serta masukan konstruktif demi penyempurnaan kualitas dan validitas draf KTI yang telah disusun. Melalui ikhtiar akademis ini, MAN 3 Bantul membuktikan bahwa budaya literasi riset mampu melahirkan generasi muda yang adaptif dan berbudaya ilmiah. (Ris)