man 3 bantul MAN 3 BANTUL
Berita

SUWAIBA #24 MAN 3 Bantul: Ramadan jika Tidak Saling Menguatkan maka Tidak Asyik

Abban Said

Kontributor

80
Sabtu, 21 Maret 2026 · 23:59 WIB
Blog Image

Bantul (MAN 3 Bantul) – Di tengah hiruk-pikuk disrupsi digital, MAN 3 Bantul (MANTABA) mengambil langkah progresif dalam syiar Islam melalui kolaborasi strategis antara program SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA) dan KURMA (Kultum Ramadan). Memasuki episode ke-24 pada Ramadan 1447 H, mimbar dakwah virtual ini menghadirkan Labda Fayiz Ghazy, siswa kelas X G, yang membedah urgensi kolektivitas spiritual dalam tajuk "Ramadan jika Tidak Saling Menguatkan maka Tidak Asyik".

Labda mengawali kajiannya dengan merefleksikan posisi umat Muslim yang kini berada di fase sepuluh hari kedua Ramadan—fase yang sering disebut sebagai masa maghfirah (ampunan). Menurutnya, menjaga konsistensi ibadah di tengah bulan suci memerlukan ekosistem yang suportif. "Ramadan bukan sekadar perlombaan individu dalam menahan lapar, melainkan momentum untuk memperkokoh rukun Islam keempat melalui semangat saling asah, asih, dan asuh antar-sesama mukmin," tegas Labda dalam tayangan di kanal YouTube resmi MANTABA.

Secara teologis, Labda memperkuat argumennya dengan merujuk pada kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits karya ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani. Ia menjelaskan bahwa kesempurnaan puasa wajib sangat bergantung pada kualitas ibadah nawafil (sunah) sebagai penambal kekurangan. Shalat tarawih, taubat, dan witir bukan sekadar rutinitas, melainkan instrumen esensial untuk meningkatkan derajat spiritualitas hamba agar tidak keluar dari Ramadan dengan tangan hampa.

Lebih lanjut, ia membedah tiga pilar ketahanan jiwa: Sabar, Syukur, dan Ikhlas. Ketiganya dipandang sebagai segitiga emas yang tidak boleh dipisahkan. Keikhlasan dalam beribadah akan melahirkan kesabaran dalam menghadapi ujian, yang pada akhirnya bermuara pada rasa syukur yang mendalam. Labda menekankan bahwa sinergi ketiga pilar inilah yang membuat dinamika Ramadan menjadi "asyik" dan bermakna, karena ada energi positif yang terus mengalir di antara umat.

Menutup tausiyahnya, Labda menyampaikan pesan persuasif tentang fleksibilitas namun ketegasan dalam beristiqamah. Mengutip pesan bijak tentang frekuensi ibadah, ia mengajak rekan sejawatnya untuk tidak pernah menyerah pada keadaan—meski hanya mampu melakukan kebaikan sekali dalam sebulan atau setahun, hal itu jauh lebih mulia daripada membiarkan hati mati tanpa cahaya ibadah sama sekali. Program ini pun menjadi bukti nyata bahwa madrasah mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga piawai dalam retorika dakwah di era media sosial. (Ris)