Abban Said
Kontributor
Bantul (MAN 3 Bantul)– Di tengah hiruk-pikuk rutinitas Ramadan, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul (MANTABA) konsisten menghadirkan oase spiritual melalui program unggulan "SUWAIBA" (Asupan Jiwa MANTABA). Pada episode ke-25 tahun 1447 H yang ditayangkan melalui kanal YouTube resmi madrasah, Senin (16/03/2026), program ini mengupas tuntas esensi puasa agar tidak terjebak dalam ritualitas lahiriah semata. Dakwah digital ini menjadi bagian dari upaya madrasah dalam menyebarkan syiar Islam yang moderat dan menyentuh hati masyarakat luas.
Hadir sebagai narasumber, Syauqie Raihanul Azhar Elgi, mahasiswa PLP dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, membawa perspektif segar mengenai "Hikmah Puasa". Dalam pemaparannya, Syauqie menegaskan bahwa puasa adalah instrumen transformasi jiwa yang sangat sistematis. Merujuk pada kitab Al-Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam karya Syekh Muhammad Ali, ia mengingatkan bahwa target utama puasa adalah meraih derajat takwa, sebuah kualitas mental di mana seorang hamba senantiasa merasa dalam pengawasan Sang Khalik (muraqabah).
Hikmah pertama yang ditekankan adalah puasa sebagai bentuk penghambaan murni (ubudiyah). Syauqie menjelaskan bahwa saat berpuasa, seseorang secara sukarela meninggalkan hal-hal yang asalnya halal, seperti makan dan minum, semata-mata karena tunduk pada otoritas ketuhanan. Hal ini menjadi pembuktian bahwa orientasi hidup seorang Muslim bukanlah kepuasan biologis, melainkan keridaan Allah SWT. "Melalui puasa, kita dilatih untuk benar-benar merasakan posisi kita sebagai hamba yang berserah diri," tuturnya.
Lebih lanjut, puasa dipandang sebagai madrasah bagi jiwa untuk melatih kesabaran dan ketabahan. Di tengah gempuran godaan duniawi, puasa hadir sebagai rem spiritual agar manusia tidak menjadi budak bagi hawa nafsunya sendiri. Dengan menahan diri dari keinginan fisik yang mendesak, seseorang sejatinya sedang memperkuat otot-otot kemauan dan tekadnya. Transformasi ini sangat krusial agar umat Islam mampu berjalan di atas tuntunan akal sehat dan syariat, bukan sekadar mengikuti dorongan emosional.
Aspek sosial juga menjadi sorotan utama dalam kultum tersebut.
Syauqie mengisahkan keteladanan Nabi Yusuf AS yang memilih untuk tidak makan hingga kenyang meski memegang kendali atas perbendaharaan negara. Hal ini dilakukan agar rasa lapar tersebut terus membangkitkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Dengan demikian, puasa berfungsi melunakkan hati agar lebih peka terhadap penderitaan sesama, yang kemudian diwujudkan dalam aksi nyata berupa sedekah dan kepedulian sosial yang lebih intens selama Ramadan.
Sebagai penutup, program SUWAIBA menegaskan bahwa penyucian jiwa adalah muara dari seluruh rangkaian ibadah di bulan suci. Dengan konsistensi menjaga niat dan perilaku selama berpuasa, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi baru yang lebih berkualitas secara spiritual dan sosial. "Tujuan akhir kita bukan sekadar haus dan lapar, tapi bagaimana jiwa kita kembali bersih dan siap berkomitmen penuh pada kebaikan setelah Ramadan berlalu," pungkas Syauqie dalam siaran yang disambut hangat oleh para santri dan sobat SUWAIBA tersebut. (Ris)