Abban Said
Kontributor
Bantul (MAN 3 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul (Mantaba) terus konsisten mengamplifikasi syiar moderasi melalui platform digital. Melalui program unggulan "SUWAIBA" (Asupan Jiwa Mantaba), madrasah ini membedah fenomena fanwar—perang urat syaraf antar-penggemar di media sosial—dari perspektif akhlak Islam.
Dalam tayangan SUWAIBA 1447 H Episode 26 yang disiarkan pada Selasa (17/03/2026), narasumber muda Jawza' Najlaa' Mu'minah Al Lathiif, siswi kelas X C, menekankan bahwa media sosial saat ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang ujian bagi karakter seorang muslim. Jawza' menyoroti bagaimana kecintaan berlebihan terhadap idola atau budaya tertentu sering kali menggiring remaja ke dalam fanatisme buta yang melampaui batas kewajaran.
"Kita diperbolehkan menyukai sebuah karya atau sosok, namun menjadi persoalan serius ketika rasa suka itu menutup pintu empati. Di era digital, setiap ketikan adalah representasi lisan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT," ujar Jawza'. Ia merujuk pada prinsip qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut) dan hadis Nabi tentang larangan fanatisme golongan sebagai benteng utama bagi remaja muslim agar tidak terjebak dalam perilaku toksik di internet.
Lebih dalam, Jawza' membedah fenomena 'hilangnya wajah' dalam komunikasi digital. Absennya interaksi tatap muka membuat banyak individu merasa memiliki impunitas untuk menghakimi sesama tanpa beban moral. Hal inilah yang memicu konflik verbal di media sosial terasa lebih brutal dibanding dunia nyata. Sebagai solusinya, ia mengajak rekan sebayanya untuk melakukan "Literasi Kalbu" sebelum menekan tombol kirim: mempertimbangkan apakah komentar tersebut bermanfaat, menyakiti, atau justru memicu permusuhan.
Kepala Madrasah dan jajaran pendidik berharap program SUWAIBA dapat menjadi kanal alternatif bagi generasi Z untuk menemukan jati diri di tengah hiruk-pikuk tren dunia maya. Dengan mengalihkan energi fanwar menjadi energi kreatif—seperti literasi dan pembuatan konten positif—remaja muslim diharapkan mampu menjadi rahmatan lil alamin di ruang digital yang kian bising. Akhlak digital, menurut Jawza', adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada kemenangan semu dalam debat di kolom komentar. (Ris)